Terima kasih Atas kunjungannya

Senin, 14 Oktober 2013

Alat musik tradisional Indonesia.



Angklung.


Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat.
Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.


Blibing.




Bonang barung.




Calung.


Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung.
Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la).
Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).


Gamelan.


Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam, gamelan berasal dari daerah Jawa tengah, Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat disebut dengan Degung dan di Bali disebut Gamelan Bali.
Satu perangkat gamelan terdiri dari instrumen saron, demung, gong, kenong, slentem, bonang, peking, gender dan beberapa instrumen lainnya.
Disamping itu gamelan mempunyai nada pentatonis/ pentatonic.


Gandang Tabuik.




Gendang Bali.




Gendang Melayu.




Gong bende.




Kecapi.


Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerah Jawa Barat.
Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/ senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya.
Alat musik yang menyerupai kecapi adalah siter dari Jawa Tengah.


Kecapi Suling/ mamaos.


Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suara Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca), degung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh.
Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun atau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau.
Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang.
Keduanya menunjukan kepada peraturan rumpaka (teks).
Sedangkan teknik vokal keduanya menggunakan bahan-bahan olahan vokal Sunda.
Namun demikian pada akhirnya kedua teknik pembuatan rumpaka ini ada yang digabungkan.
Lagu-lagu papantunan pun banyak yang dibuat dengan aturan pupuh.


Kendang.


Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan (kambing).
Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia.
Di daerah Jawa Barat kendang mempunyai peranan penting dalam tarian Jaipong.
Di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi tarian, wayang dan ketoprak.
Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias.
Rebana adalah jenis alat musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam, rebana dapat dijumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.


Kenong.


Kenong merupakan unsur instrumen pencon gamelan yang paling gemuk, dibandingkan dengan kempul dan gong yang walaupun besar namun berbentuk pipih.
Kenong ini disusun pada pangkon berupa kayu keras yang dialasi dengan tali, sehingga pada saat dipukul kenong tidak akan bergoyang ke samping namun dapat bergoyang ke atas bawah, sehingga menghasilkan suara.
Bentuk kenong yang besar menghasilkan suara yang rendah namun nyaring dengan timber yang khas (dalam telinga masyarakat Jawa ditangkap berbunyi ning-nong, sehingga dinamakan kenong).
Dalam gamelan, suara kenong mengisi sela-sela antara kempul.


Kulintang.


Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa.
Alat musik ini mempunyai tangga nada diatonis yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis.
Bahan dasar dibuat dari kayu dan cara untuk memainkan alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.


Rebab.


Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab.
Rebab berasal dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi).
Rebab terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/ dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis.
Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa.
Rebab jenis ini dapat dijumpai di Bali, Jawa dan Kalimantan Selatan.


Rebana qasidah.


Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih.
Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing.
Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh.
Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang.
Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk.
Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.


Saluang.


Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat.
Yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kurz).
Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai.
Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang.
Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm.
Adapun kegunaan lain dari talang adalah wadah untuk membuat lemang, salah satu makanan tradisional Minangkabau.


Saron.


Saron atau yang biasanya disebut juga ricik ,adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan.
Dalam satu set gamelan biasanya mempunyai 4 saron, dan semuanya memiliki versi pelog dan slendro.
Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, dengan ukuran fisik yang lebih kecil.
Tabuh saron biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu.
Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2.
Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya.
Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan cepat.
Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun keras.
Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan.
Dalam memainkan saron, tangan kanan memukul wilahan/ lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya.
Teknik ini disebut memathet (kata dasar: pathet = pencet)


Sasando.


Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur, kecapi ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai/ senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.


Saung gauk.




Serunai.


Serunai, atau juga disebut puput serunai, adalah nama alat musik aerofonik (tiup) yang dikenal di Indonesia sebagai alat musik tradisional di masyarakat Minang.
Bagian unik dari serunai adalah ujungnya yang mengembang, berfungsi untuk memperbesar volume suara.


Siter.




So duang.




Suling Sunda.


Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu hampir semua daerah di Indonesia dapat dijumpai alat musik ini.
Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di Sumatera Utara, Kalimantan.
Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40 – 100 cm dengan garis tengah 2 cm.


Talempong.


Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau.
Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).


Tifa.




Terompet Reog.



  • Provinsi DI Aceh/ Nanggro Aceh Darussalam/ NAD.
    Alat Musik Tradisional : arbab, rapai, geundrang, bangsi alas, Serune Kalee (Serunai), geundrang, tambo tak tok trieng, bereguh, canang, dan celempong.

  • Provinsi Sumatera Utara/ Sumut.
    Alat Musik Tradisional : Aramba, Doli-doli, Druri dana, Faritia, Garantung, Gonrang, Hapetan,

  • Provinsi Sumatera Barat / Sumbar.
    Alat Musik Tradisional : Saluang, Talempong Pacik.

  • Provinsi Jawa Barat/ Jabar.
    Alat Musik Tradisional : Arumba, Calung, Dod-dog, Gamelan Sunda, Angklung, Rebab, Siter/ Celempung.

  • Provinsi Jawa Tengah/ Jateng.
    Alat Musik Tradisional : Gamelan Jawa, Siter/ Celempung.

  • Provinsi Bali.
    Alat Musik Tradisional : Gamelan Bali.

  • Provinsi Nusa Tenggara Barat/ NTB.
    Alat Musik Tradisional : Cungklik.

  • Provinsi Nusa Tenggara Timur/ NTT.
    Alat Musik Tradisional : Foi Mere, Sasando, Keloko.

  • Provinsi Kalimantan Selatan/ Kalsel.
    Alat Musik Tradisional : Babun.

  • Provinsi Sulawesi Selatan/ Sulsel.
    Alat Musik Tradisional : Alosu, Anak Becing, Basi-Basi, Popondi, Keso-Keso, Lembang.

  • Provinsi Maluku.
    Alat Musik Tradisional : Floit, Nafiri, Totobuang, Tifa.

  • Provinsi Irian Jaya/ Papua.
    Alat Musik Tradisional : Atowo, Tifa, Fu.

Lain-Lain :

- Gerdek berasal dari daerah Dayak Kalimantan.
- Kere-kere galang berasal dari daerah Goa.
- Kinu berasal dari daerah Pulau Roti.
- Kolintang berasal dari daerah Minahasa.
- Sampek berasal dari daerah Dayak Kalimantan.
- Talindo berasal dari daerah Sulawesi.
- Kecapi berasal dari daerah Seluruh Nusantara Umumnya di Jawa.
- Kledi berasal dari daerah Kalimantan.
- Serunai berasal dari daerah Sumatera.



Sumber :
http://dreamindonesia.wordpress.com
http://repindonesiaraya.blogspot.com/2011/04/alat-musik-tradisional.html


1 komentar: