Kini sudah 11 tahun berjalan dan gagasan bahwa AS mengetahui lebih banyak negara Afghanistan, di mana merek bertempur, ternyata sangat meleset dan membuat frustrasi.
Seorang kontraktor independent, Peretz Partensky, menghabiskan waktu empat bulan di Afghanistan bersama Synergy Strike Forfe di Jalalabad dan menulis pengalamannya di jalalagood.com.
Partensky setuju membagi jepretannya selama hidupnya di Afghanistan bersama Business Insider. Dari gambar-gambar tersebut memperingatkan Afghanistan hampir mustahil untuk diartikan.
Tak boleh ada senjata di rumah sakit, namun ada loker di dalam yang bisa digunakan menyembunyikan senjata.
Warga Afghan piknik di kota kuno, Balkh, menggelar karpet merah dengan menu lemak domba, roti tanpa ragi, gula dengan teh dan Coca-Cola.
Pemandangan di Jalalabad.
Toko karpet ini menerima kartu kredit Visa dan Master Card.
Di kota-kota besar Afghanistan, terdapat pasar dengan barang-barang AS yang didapat ilegal.
Anda dapat memperoleh hampi apa pun dari Pasar AS ilegal, meski tentara gabungan NATO berulang kali melakukan penggerebegan.
Tak ada cukup sekolah, sehingga gelaran karpet merah pun bisa menjadi sekolah
Anak-anak sudah terbiasa dengan senjata.
Bangkai helikopter Mi-8 Rusia yang digunakan dalam perang berdekade lalu menjadi salah satu pemandangan umum.
Tim basket berdoa menjelang kompetisi nasional di Kabul.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/08/20/m9194p-sisi-afghanistan-yang-tak-terpublikasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar