Terima kasih Atas kunjungannya

Senin, 06 Agustus 2012

Penjelasan tentang sabu-sabu.



Sabu-sabu
Amfetamin ditemukan pada akhir 1900-an, namun baru dipasarkan pada 1930-an, waktu Benzedrin dikenalkan oleh industri farmasi untuk mengobati darah rendah. Deksedrin dikenalkan pada 1950-an untuk menekan kelaparan dan meningkatkan suasana hati. Merek amfetamin lain, seperti Metedrin, Deksamil dan Benzedrin, kemudian membanjiri pasaran. Pada 1960-an, tampaknya semuanya ‘memakan sang putih/ bennies dan doing speed’ (semuanya istilah slang untuk memakai perangsang jenis amfetamin). Biasanya orang tersebut termasuk dua kategori: mereka senang upper (perangsang) atau downer (depresan, seperti heroin).

Metamfetamin (meth) dan kokain lagi in dari akhir 1960-an hingga akhir 1980-an. Dan ada beberapa bentuk meth dan kokain yang dikenal, misalnya, sebagai Crank, Speed, Bennies, Rock, Kristal, dan Crack.

Pada awal 1990-an, satu bentuk metamfetamin lagi, dikenal sebagai Kristal Meth atau Ice, dan di Indonesia sebagai sabu-sabu, sampai ke jalanan di seluruh dunia. Sabu-sabu dua sampai tiga kali lebih manjur daripada sebagian besar amfetamin lain. Sabu-sabu membangkitkan secara dramatis ‘pasaran speed’. Sabu-sabu tahan lebih lama dan menimbulkan giting jauh lebih baik dibanding sebagian besar bentuk speed lain. Sabu-sabu mengambil alih sebagai narkoba pilihan untuk mereka yang senang suasana speed. Penggunaan, dan penyalahgunaan, sabu-sabu makin meningkat selama satu dasawarsa penuh. Sabu-sabu selalu dianggap narkoba ilegal yang sangat berbahaya dan merusak.

Sabu-sabu populer karena banyak alasan. Para pengguna menegaskan sabu-sabu memberikan mereka lebih banyak tenaga dan kekuatan, membuat mereka tahan tidak tidur selama 24 hingga 48, bahkan 72 jam. Mereka menyatakan sabu-sabu memberikan pengalaman seks lebih lama dan lebih baik, dan narkoba ini sangat populer di antara orang gay di AS.

Dikatakan sabu-sabu membantu mereka berpikir lebih jelas, dan menjadi lebih lihai. Amfetamin dan metamfetamin sering dipakai di ‘lingkungan medis’ untuk membantu para perempuan menghilangkan berat badan. Dan ada mitos umum di Indonesia bahwa memakai sabu-sabu adalah cara terbaik mengatasi kecanduan heroin. Kerap kali ini adalah beberapa dari banyak alasan penggunaan dan penyalahgunaan sabu-sabu. Masalahnya, hanya sedikit orang benar-benar memahami kerugian dari sabu-sabu.

Umumnya orang-orang yang memakai kombinasi upper dan downer, yakni, speedballing (pemakaian kombinasi metamfetamin dan heroin) setahu kami, belum menjadi kegemaran di Indonesia.

Metamfetamin sampai ke jalanan Indonesia pada 1996, dan sejak itu menjadi semakin populer dengan ‘kebudayaan narkoba’. Umumnya sabu-sabu dihisap. Tetapi makin banyak orang cenderung shoot (menyuntik) sabu-sabu saat ini.

Alat Hisap sabu-sabu
Sabu-sabu, seperti heroin, dapat dihisap, diendus atau disuntikkan. Sabu-sabu bentuk cairan yang dapat disuntikkan jarang tersedia di Indonesia, walaupun amfetamin cair mudah diperoleh. Namun hampir pasti sabu-sabu bentuk cairan yang dapat disuntik akan segera berlimpah-limpah. Peningkatan dalam penyuntikan yang diakibatkannya akan meningkatkan risiko dan penyebaran HIV dan virus hepatitis C (HCV)besar-besaran di seluruh negara. Kita harus sadar bahwa dunia saat ini juga berada dalam ‘Kebudayaan Narkoba’. Banyak orang, dengan kelompok usia dari yang muda hingga orang dewasa dan bahkan lanjut usia, memakai narkoba, menyalahgunakan narkoba dan ketergantungan pada narkoba. Dan ada hanya sedikit perbedaan jender dalam dunia narkoba sekarang–perempuan sama terpukul seperti lelaki.

Sabu-sabu jauh lebih berbahaya dalam beberapa cara daripada heroin (putaw). Penggunaan dan penyalahgunaan sabu-sabu jangka panjang menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat, mengakibatkan depresi dan kelemahan, keracunan pada jantung dan pembuluh darah, dan sangat sering mengakibatkan paranoia tinggi dan parah. Kecenderungan depresi sifat bunuh diri sangat umum pada orang yang memakai sabu-sabu. Overdosis memang terjadi, dan orang memang bisa meninggal dunia karena sabu-sabu, walaupun putaw masih penyebab utama overdosis narkoba.

Kekerasan dan perilaku brutal jauh lebih lazim dengan sabu-sabu daripada putaw. Kami mengamati peningkatan dalam peristiwa kekerasan terkait sabu-sabu di Indonesia saat ini–dan kami cemas ini akan meningkat secara bermakna pada tahun-tahun mendatang.

Detoksifikasi dari sabu-sabu memerlukan beberapa hari lebih lama daripada putaw. Dalam lingkungan lumayan, dan dibantu oleh orang yang sungguh-sungguh memahami proses detoksifikasi, detoksifikasi tahap pertama dari sabu-sabu kurang-lebih 5-8 hari.

Peringatan! Detoksifikasi cepat dengan naltrekson tidak boleh dipakai dengan pecandu sabu-sabu–naltrekson tidak ada efek pada narkoba non-opioid seperti sabu-sabu.

Sabu-sabu sekarang dibuat di Indonesia! Narkoba ini mudah terjangkau di seluruh sistem pendidikan Indonesia, dari tingkat SLTP ke atas di pulau Jawa. Sabu-sabu sekarang mudah dicari di hampir seluruh Tanah Air, karena narkoba ini mengikuti jalur perdagangan yang sama seperti putaw.


Bahan-Bahan Pembuatan Sabu-Sabu.

Sabu-sabu atau methamphetamines (metilamphetamine atau desoksiefedrin), disingkat meth, termasuk ke dalam jenis obat-obatan psikostimulansia dan simpatomimetik, sering disalah gunakan sebagai narkotika. Methamphetamines pertama dibuat di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi.




Berikut adalah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sabu-sabu.


Korek Api.


Fosfor merah yang terkandung dalam pentul korek api, jika dikombinasikan dengan yodium dapat menjadi zat yang disebut Hydriodic Asam, sebuah bahan baku methamphetamines.


Iodium.


Iodium adalah racun yang berbahaya jika tertelan dalam jumlah besar yang dapat mempengaruhi fungsi tiroid. Dibutuhkan hampir 4 botol yodium untuk menghasilkan 2-3 gram methamphetamine.


Drano.


Drano biasa digunakan untuk menimbulkan korosi pada sampah yang menyumbat pipa air.


Minyak Rem.


Minyak rem sering kali digunakan untuk membuat methamphetamines.


Ephedrine.


Selain untuk membersihkan sinus, efedrin juga mempunyai efek melepas dopamin di dalam otak, yang membangkitkan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan ketika makan atau melakukan seks. Meskipun hal ini mungkin terdengar lumrah secara teori, namun simulasi berlebihan terhadap pelepasan dopamin secara buatan pada akhirnya akan menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan untuk menciptakan sensasi kesenangan secara alami.


Butana.


Bahan bakar korek gas ini digunakan dalam proses memasak sabu-sabu.


Asam Klorida dan Natrium Hidroksida.


Asam klorida ditemukan secara alami dalam usus sebagai bahan cairan pencernaan manusia. Jika tumpah pada kulit, asam ini akan benar-benar merusak hingga ke daging manusia. Dalam dunia industri, asam klorida digunakan dalam pengolahan kulit, selain itu digunakan pula untuk menghilangkan karat pada besi dan baja.


Ether.


Biasa digunakan sebagai obat bius karena memiliki aroma manis yang dapat menghipnotis, sering kali digunakan sebelum operasi. Bahan ini angat mudah terbakar.


Amonium Anhidrat.


Istilah “anhidrat” berarti tanpa air. Karena amonia yang kuat ini kekurangan air, ia akan mencarinya di mana pun dapat menemukannya, termasuk daging manusia. Zat yang sangat merusak ini digunakan dalam industri sebagai pendingin komersial dan pupuk kimia.

Ada beberapa resep yang berbeda untuk membuat sabu-sabu, tapi tentu saja tetap melibatkan bahan-bahan yang sangat berbahaya. Beberapa bahan lain yang digunakan untuk membuat sabu-sabu adalah baterai, pengencer cat, bensin, dan minyak tanah. Jika Anda mengenal seseorang yang menjadi pengguna sabu-sabu beritahukanlah hal ini kepada mereka.

Para pemakai hanya mengetahui cara menggunakannya untuk kepuasan diri sendiri tanpa tahu akan efek samping yang sangat berbahaya dari setiap bahan-bahan dasarnya. Mereka mungkin tidak tahu bahwa alasan tubuh mereka bereaksi seperti itu adalah karena diracuni secara harfiah dan dapat menyebabkan gejala kegilaan permanen dengan terus menggunakannya.

APAKAH ANDA AKAN TERUS MENCOBANYA???




Sumber  :
http://hendryferdinan.wordpress.com/2011/03/06/sabu-sabu/
http://elmijatmatwomeimie.blogspot.com/2012/03/bahan-bahan-pembuatan-sabu-sabu.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar