Terima kasih Atas kunjungannya

Selasa, 15 Mei 2012

Contoh Peribahasa baru.

Peribahasa adalah ramuan kata-kata yang diramu sedemikian rupa dan mengandung arti atau makna, jadi pada umumnya peribahasa itu adalah sebuah pesan terselubung yang mempunyai makna yang mendalam. Beberapa peribahasa terbaru yang dikumpulkan dari berbagai sumber, baik sumber digital maupun sumber konvensional (buku) terbaru beserta artinya .
  • Yang tak diarah dapat, yang diarah tak kena = Keberuntungan manusia itu takdir, meski bagaimanapun orang memburu rezeki, jika belum diberikan oleh Tuhan maka tak akan tercapai.

  • Yang tajam tumpul, yang bisa tawar = Dengan perkataan yang lemah lembut dapat diselesaikan segala sengketa.

  • Yang seorang memeram batu, yang seorang memeram pisang = Perbedaan pendirian; seorang boleh menanti seorang lagi tidak

  • Yang sesukat takkan jadi segantang = Tidak ada yang dapat mengubah takdir.

  • Yang sejengkal tidak dapat jadi sedepa = Sesuatu yang tidak dapat diubah lagi.

  • Yang sehasta takkan jadi sedepa = Sesuatu yang tidak dapat diubah lagi.

  • Yang secupak takkan jadi sesukat, yang sejengkal takkan jadi sehasta = Sesuatu yang sudah pasti.

  • Yang secupak tak akan menjadi segantang = Sesuatu yang sudah pasti; sesuatu yang sudah pasti dan tidak akan diubah.

  • Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang = Kasih sayang hanya waktu berhadapan saja, setelah berjauhan lalu dilupakan.

  • Angus (hangus) tiada berapi, karam tiada berair = Menderita kesusahan karena kematian atau kehilangan kekasih.

  • Badak makan anak = Bagaimana sekalipun orang berkasih-kasihan, tetapi dengan mudah juga dapat diceraikan, karena orang lebih mengutamakan harta-benda.

  • Bagai bertepuk sebelah tangan = Cinta kasih yang tidak berbalas.

  • Bagai emak mandul baru beranak = Girang yang amat sangat; kasih sayang yang terlalu amat.

  • Bagai menjaga permata intan ketika dicanai = Kasih sayang yang tidak ada taranya.

  • Bagai ular dengan legundi = Sangat terpikat kepada kekasih.

  • Bakar tak berapi = Cinta tidak dengan sebenarnya; cinta dengan diam-diam.

  • Balam dua sesangkar = Seorang perempuan dicintai oleh dua orang lelaki.

  • Di belakang ia menendang kita, bila di depan ia mengeting kita, jika di tengah ia berpusing ligat pula = Menghadapi seseorang yang kita kasihi, yang menyebabkan kita menjadi serba-salah.

  • Gajah seekor gembala dua = Sesuatu pekerjaan dikepalai oleh dua orang; dua orang lelaki mencintai seorang perempuan.

  • Gelang tidak laga sebentuk, laga keduanya = Cinta kasih mestilah datang daripada kedua-dua belah pihak.

  • Hidung dicium, pipi digigit = Kasih sayang yang pura-pura saja; menyembunyikan perbuatan jahat dengan perbuatan baik.

  • Air besar, batu bersibak = Saudara dan sahabat berpecah-belah apabila timbul perselisihan besar.

  • Air dicencang tiada putus = Dua orang yang bersaudara tidak dapat dipisahkan oleh perselisihan.

  • Air sama air menjadi satu, sampah ke tepi juga = Jangan ikut campur dalam perselisihan orang bersaudara, apabila mereka berbaik kembali, kita akan tersisih ke tepi.

  • Bagai empedu lekat di hati = Sangat karib (tentang orang bersahabat atau orang berkasih-kasihan).

  • Berkuah sama menghirup, bersambal sama mencolek = Persahabatan yang sangat karib.

  • Berpatah arang berkerat rotan = Memutukan tali persahabatan (persaudaraan).

  • Bersaksi ke lutut = Minta pertimbangan kepada orang yang bodoh; sahabat atau sanak saudara dijadikan saksi.

  • Jika cerdik teman berunding, jika bodoh disuruh diarah = Sahabat yang tulus ikhlas dan suka membantu.

  • Kundur tidak melata pergi, labu tidak melata mari = Persetujuan atau persahabatan harus datang daripada kedua-dua belah pihak.

  • Laba sama dibagi, rugi sama diterjuni = Persahabatan yang sangat karib.

  • Sekain sebaju, selauk senasi = Gambaran persahabatan atau ikatan percintaan yang seia sekata sehidup sepenanggungan.

  • Selapit ketiduran sebantal sekalang gulu = Persahabatan yang sangat akrab.

  • Seperti inai dengan kuku = Persahabatan yang sangat erat dan tidak akan dapat dipisahkan.

  • Seperti sendok dengan periuk sentuh-menyentuh = Adakalanya terjadi perselisihan dengan sahabat.

  • Terlentang sama makan abu, tengkurap sama makan tanah = Kesetiaan dalam persahabatan atau percintaan sehingga ikhlas dalam menjalani hidup, baik suka maupun duka.

  • Zikir-zikir saja jatuhkah rezeki jatuh dari langit = Rezeki tidak datang dengan hanya berdoa.

  • Zaman Tuk Nadur berkajang kain = Zaman yang telah lalu; sudah lama sekali.

  • Zaman beredar musim berganti = Musim yang tidak dapat dipastikan lagi kapan waktunya akan berganti.

  • Zaman beralih, musim bertukar = Segala sesuatu (peraturan, hukuman dan sebagainya) hendaklah disesuaikan dengan keadaan zaman.

  • Yang untut lain, yang mengensot lain = Yang salah lain, yang kena hukum lain.

  • Yang tua dimuliakan, yang kecil dikasihi = Orang yang pandai menempatkan diri di segala tempat dan situasi.

  • Yang tinggi tampak jauh, yang dekat jolong bersua = Dalam sesuatu usaha pemimpinlah yang bertanggungjawab dan dialah pula yang akan dipuji atau dicela.

  • Yang terpelanting akan dipilih, yang terserat tidak di kampungkan lagi = Hendaknya hidup itu dijalani dengan sederhana dan tidak dengan berfoya-foya.
  • Yang terkalang-kalang di mata, yang terasa-rasa di hati = Keinginan hendaknya dapat diwujudkan, agar tercapai semua harapan dan hidup bahagia.

  • Yang terbujur lalu, yang terlintang patah = Sesuatu yang tak dapat dihalang-halangi.

  • Yang teguh disokong, yang rebah ( rendah) ditindih = Orang yang sudah kuat (kaya, baik dan sebagainya) dibantu, sedangkan orang yang lemah (miskin dan sebagainya) diperas.

  • Yang tegak disokong, yang lemah ditopang = Orang kaya dimuliakan dihormati, sedangkan orang miskin dibantu dan ditolong.

  • Hidup sandar-menyandar umpama aur dengan tebing = Suami isteri yang berkasih-kasih; sahabat yang setia dan bertolong-tolongan.

  • Hitam mata itu takkan boleh bercerai dengan putihnya = Orang yang sedang berkasih-kasihan tak dapat dipisahkan satu sama lain.

  • Ibarat bunga: sedap dipakai layu dibuang = Perempuan yang dikasihi sementara muda, tetapi setelah tua lalu diceraikan. (sedap = maksudnya: segar.)

  • Ibarat dawat (dakwat) dengan kertas: bila boleh renggang terlepas = Suami isteri yang berkasih-kasihan.

  • Janda belum berlaki = Gadis yang sudah ditinggalkan oleh lelaki yang menjadi kekasihnya.

  • Jauh dari mata jauhlah dari hati = Hilang kasih sesudah berjauhan tempat.

  • Jikalau kasihkan padi, buanglah rumput = Jika kasih akan anak isteri, berhentilah daripada mengasihi orang lain.

  • Karam di laut boleh ditimba, karam di hati bilakan sudah = Kesedihan karena kematian kekasih.

  • Karam Kampar oleh Kuantan = Mendapat kerugian karena perbuatan orang kepercayaannya atau orang yang dikasihinya.

  • Karam sambal oleh belacan = Mendapat kerugian karena perbuatan orang kepercayaannya atau orang yang dikasihinya.

  • karena cenderawasih, merak mas (emas) dilepaskan = Sesudah mendapat kekasih baru, kekasih lama dilepaskan.

  • karena mata buta, karena hati mati = Orang yang menurutkan hawa nafsunya, akhirnya akan binasa.

  • Kasih bapa sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan = Cinta kasih anak kepada bapa tidak seimbang dengan cinta kasih bapa kepada anak.

  • Kasih itu roh (= semangat) yang buta = Kasih tidak memilih yang baik atau yang cantik saja.

  • Kasih saudara sama ada, kasih bapa menokok harta, kasih ibu sama rata, kasih sahabat sama binasa = Kasih yang sama beradalah kasih yang sempurna, sebab biar bagaimanapun kasih seseorang itu akan kawannya namun karena harta akan bercerai juga akhirnya.

  • Kasih sepantun tulisan pinggan = Kasih yang tak hilang-hilang.

  • Kasih tidak bersekutu dengan bijak = Apabila hati telah kasih, maka hilanglah cacat-celanya.

  • Kasihan gajah berusung = Kasihan yang tidak pada tempatnya.

  • Keli dua selubang = Seorang perempuan yang mempunyai kekasih dua orang.

  • Kerja sebarang hubah, kasih sebarang tempat = Kerja apa pun suka, kepada siapa pun kasih. (hubah = suka.)

  • Laksana jentayu menantikan hujan. (jentayu = burung garuda yang besar) = Sangat rindu.

  • Sakit sama mengaduh, luka sama menyiuk = Sikap yang saling setia, sehidup semati, senasib sepenanggungan, seia sekata.

  • Salah lebur sama binasa = Selalu seia sekata senasib dan sepenanggungan; sehidup-semati.

  • Satu nyawa dua badan = Suami setia terhadap istrinya.

  • Sayang di anak dilecut, sayang negeri ditinggalkan = Memberikan kasih sayang kepada seorang anak bukan berarti memanjakannya.

  • Seidas bagai benang, sebentuk bagai cincin = Dua orang yang sejodoh.

  • Sekain sebaju, selauk senasi = Gambaran persahabatan atau ikatan percintaan yang seia sekata sehidup sepenanggungan.

  • Seperti laba-laba cinta kepada telurnya = Kasih sayang yang diberikan kepada anak kandungnya; perihal orang yang saling mencintai.

  • Tak empang peluru di lalang = Kasih sayang suatu saat bisa berubah menjadi benci.

  • Tepuk sebelah tangan tidak akan berbunyi = Perasaan cinta atau sayang tidak mungkin datang dari satu pihak.

  • Terlentang sama makan abu, tengkurap sama makan tanah = Kesetiaan dalam persahabatan atau percintaan sehingga ikhlas dalam menjalani hidup, baik suka maupun duka.

  • Tidur bertilam air mata = Sangat sedih karena merindukan kekasih.




Sumber :
http://www.armhando.com/2012/02/peribahasa-indonesia-peribahasa-cinta.html
http://wong168.wordpress.com/2012/04/29/contoh-peribahasa-baru/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar