Terima kasih Atas kunjungannya

Jumat, 18 November 2011

Tokoh beragama Katolik yang mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J.




Pahlawan Nasional (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 152 Tahun 1963 )
Lahir : Surakarta, Rabu Kliwon 25 November 1896
Wafat : Steyl, Nederland, Rabu Pahing 10 Juli 1963
Makam : Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang

Mgr. Soegijapranata dikenal dan dikenang umat Katolik dan bangsa ini tidak hanya sekadar Uskup Agung Semarang saja. Pria kelahiran 25 Nopember 1896 ini dikenal dan dikenang juga dengan kiprahnya bagi pembentukan negara dan bangsa ini. Berikut cukilan yang dilakukan soal Mgr. Soegijapranata dari berbagai sumber terbitan.

Karir pekerjaannya diawali pada tahun 1915 dengan menjadi guru di Muntilan. Tahun 1911, ia mulai mengikuti pendidikan imam dan berlanjut terus hingga pada tanggal 27 September 1920 ia masuk ke novisiat Sarekat Yesus.
Dan pada tanggal 15 Agustus 1931 ia resmi menjadi imam. Sekembalinya ke Indonesia, tahun 1933, ia mendapat tugas untuk menjadi Pastor Pembantu Paroki Bintaran Yogyakarta. Ia juga sempat menjadi redaktur majalah Swara Tama. Pada tahun 1938, ia diangkat menjadi penasehat misi Sarekat Yesus di Jawa.

Di area kebangsaan, jasanya cukup perhitungan. Ia termasuk dalam jajaran pahlawan.
Walaupun pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia telah menyatakan kemerdekaan, tetapi ada beberapa pihak yang tidak mau menerima kenyataan kalau bangsa Indonesia sudah menyatakan kemerdekaannya, pihak-pihak yang tidak mau menerima kenyataan adalah pihak Belanda dan pihak Jepang, pihak Jepang tidak mau menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada pemerintah Indonesia.



Setelah mendengar bahwa bangsa Indonesia telah merdeka, beliau mengibarkan bendera merah putih di depan gedung pastoran Gedangang, Semarang. Sejak saat itu pastoran gedangang selalu dihiasi dengan bendera merah putih. Karena hal tersebut Mgr. Soegijapranata pernah mendapatkan teguran dari pimpinan NICA. Teguran itu dijawab bahwa pimpinan NICA tidak pernah mengeluarkan larangan pengibaran bendera merah putih. Mgr. Soegijapranata juga menantang kepada pimpinan NICA dengan mengatakan bahwa kalau kamu ingin bendera itu turun, coba datanglah kembali dan rebutlah kekuasaan di sini.



IJ Kasimo Katolik Nasionalis




Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986), seorang pendiri dan pemimpin Partai Katolik Republik Indonesia, belum mendapat gelar pahlawan nasional secara formal. Padahal, dalam kenyataannya pengakuan itu sudah diberikan oleh masyarakat yang mengakui bobot perjuangan dan ketokohannya.

Bagi Kasimo, gelar itu pasti tidak penting, karena ia memang seorang pekerja tanpa pamrih. Tetapi pertanyaan itu muncul terkait dengan tema pluralisme bangsa yang menjadi wacana aktual dibicarakan sekarang. Kasimo adalah salah satu sosok pejuang kemerdekaan dan politis dari golongan Katolik yang sangat menjunjung tinggi pluralisme bangsa.

Di parlemen, Kasimo bisa berseberangan pendapat dengan Nasir dan kawan-kawan dari Masyumi, tetapi dalam keseharian hidup sebagai pribadi sesama anak bangsa, mereka amat dekat dan akrab. Keduanya mengaku amat diperkaya dengan sikap politik dan demokratis lewat peran dan interaksi di parlemen.

Kalau KH Hasyim Ashary menganjurkan Jihad Fisabilillah dengan Allahuakbar-nya melawan penjajahan Belanda pada 10 November 1945, maka Kasimo praktis menyerukan kepada orang Katolik (di) Indonesia untuk mendukung Proklamasi Republik Indonesia dan turut serta dalam ber-revolusi.

Kasimo dalam memimpin perjuangan politik melalui Partai Katolik Republik Indonesia tidak menampilkan sikap sektarianisme Katolik, melainkan berdasar platform kebangsaan, yaitu Pancasila. Partai Katolik tidak menjadi partai konvensional, melainkan mendasarkan atas ajaran dan moralitas (Katolik). Bahkan, sejak awal kekatolikan Kasimo di dalam masalah-masalah sosial politik sungguh progresif revolusioner dan tidak konservatif.

Kehadiran Kasimo secara aktif di dalam revolusi kemerdekaan Indonesia sungguh turut ‘menguntungkan’ RI Merdeka di mata internasional meskipun umat Katolik di Indonesia kurang dari 2,5 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. keterlibatan Kasimo itu turut membentuk nasion Indonesia yang majemuk, multikultural-bhinneka tunggal ika, berdasarkan Pancasila. Faktor itu ditanggapi dan dimengerti oleh tokoh-tokoh nasional lain seperti Sutan Sjahrir, Bung Hatta, dan kemudian juga Bung Karno selama pembentukan nasion Indonesia. Pembentukan nasion itu dewasa ini kembali aktual.

Sebagai seorang pluralitas sejati, Kasimo tidak alergi terhadap perbedaan, juga perbedaan ideologi yang bisa sangat tajam dalam parlemen atau konstituante. Bagi Kasimo, di negara bangsa Indonesia, semua orang tanpa kecuali harus merasa kerasan atau at home untuk tinggal di dalamnya.



Letkol. Ignatius Slamet Riyadi - Pahlawan Nasional




Slamet Riyadi yang dulu namanya Sukamto lahir di Donokusuman Solo, 28 Mei 1926 putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang anggota legium Kasunanan Surakarta
Mengenyam pendidikan di HIS kemudian MULO Afd B dan pada akhirnya ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Sebagai lulusan terbaik dan berhak menyandang ijasah navigasi kemudian ditambah beberapa kursus navigator maka beliau menjadi navigator dari kapal kayu yang berlayar antar pulau Nusantara
Dengan kemampuannya sebagai navigator ditambah dengan masuknya penjajah Jepang ke Indonesia khususnya di Solo dan Yogyakarta (Maret 1942) maka jiwa patriot membela ibu pertiwi berkobar. Dengan keberanian sebagai pemuda yang ketika itu usianya belum genap 20 tahun mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang. Usaha Ken Pei Tai (Polisi Militer Jepang) untuk menangkapnya tidak pernah berhasil , bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam kekuatan setingkat Batalyon , yang dipersiapkan untuk mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang (Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X ).Dari sini kehidupan sebagai militer terus berlanjut. Pendidikan militer ia dapatkan dari kehidupan riel di tengah kancah merebut kemerdekaan bukan melalui teori-teori militer di bangku pendidikan ketentaraan.

Setelah Jepang terusir dari Indonesia ternyata bukan berarti merdeka seratus prosen tetapi Belanda tetap ingin menjajah Indonesia dan hal ini dikenal dengan Clash II. Di tengah-tengah melawan Belanda di tahun 1948 pecah pemberontakan PKI-Madiun dan saat itu ketaatan Slamet Riyadi kepada atasannya yaitu Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto untuk melakukan penumpasan ke arah Utara, berdampingan dengan pasukan lainnya, operasi ini berjalan dengan gemilang.

Pada saat menumpas pemberontak RMS di gerbang benteng Victoria, Ambon (4-11-1950) pasukan Pak Met berjumpa dengan segerombolan pasukan yang bersembunyi di benteng tersebut dengan mengibarkan bendera merah putih.Melihat bendera merah putih Letkol Iganatius Slamet Riyadi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerangan karena beliau yakin bahwa mereka adalah tentara Siliwangi. Untuk itu ia membuktikan sendiri dengan keluar dari panser, namun apa yang terjadi gerombolan tersebut bukan tentara Siliwangi tetapi para pemberontak RMS menghujani tembakan kearah Pak Met. Hari Sabtu 4 Nopember 1950 pukul 11.30 menghembus nafas terakhir dengan usia sangat muda belum genap 24 tahun.
Melihat perjalanan anak muda Ignatius Slamet Riyadi sangat beralasan kalau pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional karena sepanjang hidupnya hanya untuk negara tidak pernah memikirkan kepentingan pribadinya.



Agustinus Adi Sucipto, orang yang pertama kali menerbangkan pesawat Indonesia.


[Image: 180px-Adisutjipto.jpg]

[Image: adsctkn1.jpg]

Marsekal Muda (Pur) Agustinus Adisutjipto akrab dipanggil Cip namun kemudian rekan-rekannya memanggilnya Pak Adi merupakan putra pertama dari lima bersaudara buah perkawinan Roewidodarmo dan Latifatun. Adisutjipto, kelahiran Salatiga 3 Juli 1916, sangat gemar bermain sepakbola, naik gunung, tenis dan catur. Intelektualitasnya terasah lewat hobinya membaca buku-buku kemiliteran dan filsafat. Pribadinya dikenal pendiam, namun sangat reaktif bila harga dirinya terinjak.

Sejak pekik kemerdekaan berkumandang 17 Agustus 1945, satu demi satu muncul berbagai tuntutan. Termasuk penerbangan militer. Suryadarma bertindak cepat. Para eks penerbang AU Hindia Belanda, seperti Adisutjipto, dipanggilnya. Berbagai langkah konsolidasi, mulai dari mengumpulkan ratusan pesawat sampai mengupayakan perbaikan pesawat-pesawat peninggalan Jepang, diambil.

Usaha Suryadarma langsung berbuah. Buktinya, Adisutjipto berhasil menerbangkan pesawat Nishikoren dari Cibereum ke Maguwo, 10 Oktober 1945. Peristiwa ini tercatat sebagai penerbangan pertama di wilayah RI merdeka oleh awak Indonesia. Tujuhbelas hari kemudian, kembali Adisutjipto membakar semangat perjuangan dengan menerbangkan pesawat Cureng bertanda merah putih. Peristiwa ini mengukir lagi catatan sejarah, sebagai penerbangan berbendera merah putih pertama di tanah air.

Adi Sucipto terbang ke India untuk mengambil obat2an dan sekembalinya dari India ketika memasuki wilayah Indonesia. Di ujung cakrawala, terlihat pesawat Dakota VT-CLA melakukan approach. Para penumpangnya, Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, AN Constantine (pilot), R Hazelhurst (ko-pilot), Adisumarmo Wiryokusumo (engineer), Bhida Ram, Nyonya Constantine, Zainal Arifin (wakil dagang RI), dan Gani Handonocokro, tentu bahagia karena sesaat lagi akan mendarat. Begitu juga Sudarjono yang lagi piket, akan bertemu dengan kakaknya.

Sekonyong-konyong, muncul dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda dari arah utara yang langsung memberondong Dakota, pesawat sipil yang jelas-jelas membawa bantuan. Pesawat kehilangan ketinggian, melayang kencang dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian. Begitu pesawat terhempas ke tanah, langsung terbakar. Suryadarma dan semua orang penunggu, berlarian ke arah pesawat naas.



Laksamana Madya Yosaphat Soedarso



Laksamana Madya Yosaphat Soedarso (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925 – meninggal di Laut Aru, 13 Januari 1962 pada umur 36 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran Laut Aru melawan armada Belanda pada masa kampanye Trikora. Hal yang kurang lazim adalah, sebagai seorang Kepala Staff Angkatan Laut tidak seharusnya ia ikut terjun langsung di dalam operasi tersebut. Namanya kini diabadikan pada sebuah KRI dan pulau.

Yos Soedarso menikah dengan Siti Kustini (1935-2006) pada tahun 1955 dan meninggalkan lima orang anak.





Sumber :
Website Paroki St. Thomas, Keuskupan Bogor
http://mascosmaseko.blogspot.com/2011/05/mgr-soegijapranata-pahlawan-nasional.html
HARRY TJAN SILALAHI - Sekjen Partai Katolik Republik Indonesia (1964-1971
http://hurek.blogspot.com/2011/08/ij-kasimo-katolik-nasionalis.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Perwira
http://gbudiwaluyo.wordpress.com/
http://mascosmaseko.blogspot.com/2011/05/ignatius-slamet-riyadi.html
http://bpn16.wordpress.com/2010/09/23/agustinus-adi-sucipto-orang-yang-pertama-kali-menerbangkan-pesawat-indonesia/


http://id.wikipedia.org/wiki/Yos_Sudarso

2 komentar: