Terima kasih Atas kunjungannya

Rabu, 30 November 2011

Mie instan dan minyak goreng.

Mie instan sekarang sudah menjadi makanan pokok bayangan setelah nasi! Tak ada nasi mie instan pun jadi…kira-kira begitulah semboyan masyarakat kita sekarang ini. Sementara minyak goreng sudah menjadi minuman keseharian kita. Apa yang tidak digoreng? Ada tempe, telor, tahu, bakwan, kerupuk, ikan, dendeng, ayam, tumis menumis, dsb, hampir seluruh aspek kegiatan makan memakan kita tak lepas dari minyak goreng dan derivatifnya.

Fenomena mie instan sungguh luar biasa. Dalam perkembangannya 20 tahun terakhir di Indonesia dan juga dunia. Keberadaan mie instan sudah begitu luas dan menyusup ke seluruh lapisan masyarakat. Dari gerobak angkringan, warung kaki lima, warteg, kantin, rumah kost, rumah tangga, semua tak lepas dari keberadaan mie instan ini.

Mie berasal dari negeri China. Orang Italia, Arab dan China sama-sama claim bahwa merekalah penemu mie, tapi yang jelas bukti dan jejak tertulis tercatat ditemukan di jaman East Han Dynasty di antara tahun 25 – 220 Masehi. Dan jejak tertua ditemukan bulan Oktober 2005 di situs Lajia (Qijia culture) di pinggiran Yellow River di Qinghai terbuat dari foxtail millet dan broomcorn millet.

Secara umum mie/noodle didefinisikan sebagai: adonan tipis dan panjang, digulung dan dimasak dalam cairan mendidih. Cairan mendidih ini bisa air, bisa kuah, bisa minyak, sehingga bisa dikatakan bahwa cairan mendidih adalah media pemasak mie. Kata noodle sendiri ditengarai dari bahasa Jerman nudel dan kemungkinan berasal dari akar kata nodus (knot = simpul) dari bahasa Latin. Sementara kata “mie” berasal dari dialek Hokkian dari kata “mian” (baca: mien, 麵).

Jenis-jenis mie menurut bahan bakunya:
  • Millet
  • Wheat atau gandum
  • Rice
  • Mung bean
  • Potato atau canna starch
  • Buckwheat


Itulah 'mainstream' bahan baku mie di seluruh dunia. Namun demikian makin banyak lagi bahan mie yang divariasi dan dimodifikasi dari jagung misalnya, ketela rambat, singkong dsb. Tapi wheat atau gandum masih memegang urutan tertinggi dalam dunia per-noodle-an.

Ide untuk membuat instant noodle adalah untuk mengawetkan. Jejak awal instant noodle ini dari Qing Dynasty, yimian digoreng dengan cara deep fried untuk disimpan dalam jangka waktu lama.





Instant noodle modern ditemukan pertama kali oleh Momofuku Ando seorang Taiwan yang pindah ke Jepang. Beliau ini sekaligus adalah pendiri Nissin Foods, salah satu pembuat instant noodle terbesar di dunia. Metode sederhana beliau awalnya adalah memasak mie dalam kuah yang ada rasanya, kemudian deep fried dengan minyak kelapa sawit untuk mengeringkannya sehingga menjadi kering sama sekali.

Untuk memakan tinggal dipanaskan dengan air panas saja. Beberapa metode pembuatan instant noodle dicoba beliau, termasuk cara pengasapan dan penggaraman, serta penggorengan dengan minyak goreng jenis lain, tetap saja akhirnya penggorengan dengan minyak sawit yang terbaik.

Tahun 1958 Nissin meluncurkan mie instan yang pertama, Chicken Ramen di Osaka. Lompatan bersejarah berikutnya di tahun 1971 ketika Nissin memperkenalkan cup noodles kepada dunia. Dan disusul pengembangan lainnya termasuk menambahkan sayuran yang dikeringkan untuk melengkapi hidangan mie tsb.

Di tahun 2000 survey yang diadakan di Jepang mendapati bahwa mie instan merupakan temuan yang paling penting di abad ini. Diikuti dengan karaoke, bahkan compact disc hanya menempati urutan ke 5. Menurut Instant Ramen Manufacturers Association dan World Instant Noodles Association, negara-negara di Asia lah yang menempati jawara baik pembuatan dan konsumsi.

Di tahun 2005 saja 85 miliar bungkus instant noodles dimakan di seluruh dunia. China menempati jawara pertama dalam konsumsi dan produksi kira-kira 50 miliar bungkus, Indonesia malah melampaui Jepang (dapat dimengerti karena jumlah penduduknya) mencapai 15 miliar bungkus, Jepang sekitar 6 miliar bungkus. Namun juara per kapita dipegang oleh penduduk Korea Selatan yaitu 69 bungkus/ orang/ tahun. Dalam 5 tahun belakangan jumlah tsb sudah berlipat ganda paling tidak mendekati 2x lipatnya.





Nilai perputaran uang untuk mie instan di Indonesia mencapai Rp. 15 TRILIUN di tahun 2008 saja. Konsumsi per kapita di Indonesia adalah 63 bungkus/orang/tahun. Pertumbuhan mie instan mulai melesat sejak tahun 2004 di mana hanya 979.628 ton menjadi 1.691.588 ton di 2006 dengan pertumbuhan rata-rata 18.6% per tahun, tertinggi di dunia!!
Untuk tahun 2009, diperkirakan sudah mencapai kapasitas produksi mendekati 1,9juta ton, bertumbuh 8.9% dari 2008.
Dengan makin membesarnya produksi mie instan di seluruh dunia dan makin populernya di mana-mana, kebutuhan minyak sawit terus meningkat. Mayoritas produksi minyak sawit di dunia adalah untuk proses produksi mie instan ini. Bukan lah untuk bio-diesel seperti anggapan dan propaganda pecinta lingkungan.

Berapa banyak minyak sawit yang dimasukkan ke tanki kendaraan dibandingkan dengan minyak sawit yang digunakan untuk proses produksi mie instan, jelas tidak bisa dibandingkan sama sekali.

Penemu mie instan Momofuku Ando tutup usia di 96 tahun pada 2007. Jasa-jasanya untuk the most popular culinary in the world akan dikenang sepanjang masa. Tahun 1999 dibuka museum khusus instant noodles di Ikeda dengan nama Momofuku Ando Instant Ramen Museum.









Sebelum menutup mata, Sang Penemu puas mencapai impian terbesarnya, yaitu membawa mie instan'nya menembus angkasa luar. Di bulan July 2005, Nissin memperkenalkan vacuum packed instant noodle yang dibuat khusus untuk astronot Jepang, Soichi Noguchi yang dibawa dalam misi ke luar angkasa Discovery di bawah NASA Space Shuttle Program.

Sadar tidak sadar, posisi mie sudah mulai menggeser sedikit demi sedikit makanan pokok nasi untuk sebagian masyarakat Asia. Kemudahan, kepraktisan dan kaya akan rasa menjadikan mie instan pilihan utama. Bahkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang menjadikan mie instan sebagai “lauk” teman nasi… ini namanya “espresso carbo” alias double shot carbohydrate intake!

Popularitas mie instan menembus lintas batas benua dan negara. Tidaklah mengherankan di tiap toko Asia di manapun di dunia jika kita melihat tumpukan di salah satu rak terdapat berbagai merek dan jenis mie instan, dan tentu bukan hal aneh jika melihat merek Indonesia.

Sebagai orang Asia, karbohidrat tak bisa dilepaskan dari perut kita. Karbohidrat sendiri memang salah satu unsur penting macronutrient yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas. Energi, regenerasi sel, nurtrient sel otak, dan masih banyak lagi memerlukan asupan karbohidrat.

Namun kebanyakan orang tidak menyadari asupan karbohidrat dalam pangan sehari-hari biasanya melebihi jumlah yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Inilah awal mula kegemukan untuk orang Asia. Berbeda dengan kebanyakan di negara Barat, obesity dikarenakan asupan makanan berlemak tinggi dan porsi super, di Asia, kegemukan lebih disebabkan karena asupan berlebih karbohidrat.

Apalagi untuk kebanyakan orang Indonesia, ada anggapan dan sugesti serasa belum makan kalau belum kena nasi. Untuk beberapa nasi-addict kelas berat, malah lebih “mengerikan” lagi. Mie goreng, bihun kuah, bihun goreng, sohun, kudu dimakan pakai nasi sebagai lauk.

Karbohidrat terbagi 2, yaitu karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) dan karbohidrat kompleks (complex carbohydrate).
  • Simple carbohydrates are digested quickly. Many simple carbohydrates contain refined sugars and few essential vitamins and minerals. Examples include fruits, fruit juice, milk, yoghurt, honey, molasses and sugar.
  • Complex carbohydrates take longer to digest and are usually packed with fibre, vitamins and minerals. Examples are vegetables, breads, cereals, legumes and pasta.
(ivillage.co.uk)



















Jika anda ingin langsing dan lebih fit dalam beraktivitas sehari-hari, tinggalkan intake simple carbohydrate anda. Nasi adalah salah satu simple carbohydrate yang “jahat”. Memang rasa mengenyangkan nasi belum ada tandingannya, karena nasi tercerna hampir seketika dan mengandung kadar gula yang tinggi, sehingga efek menenangkan dan mengenyangkan itulah yang dirasakan oleh para penikmat nasi.

Sementara complex carbohydrate dicerna lebih lambat oleh sistem pencernaan kita, memberikan distribusi energy lebih merata sepanjang hari, namun efek “bius” sugar-shot yang menenangkan itulah yang dirasakan hilang oleh para nasi-addict.

Mie instan jelas komponen utamanya terigu. Karbohidrat lagi! Proses pembuatannya, juga menggunakan minyak dalam jumlah yang sungguh generous. Proses bukan hanya dengan dryer, tapi banyak melibatkan komponen minyak sawit.
Masih ditambah dengan satu dosis shot lagi, yaitu MSG-shot! Monosodium Glutamate dalam jumlah yang juga generous menjadi pemeran utama kenapa mie instan begitu nikmat dan begitu nagih. MSG atau bumbu penyedap-sebenarnya penamaan yang salah kaprah-menjadikan syaraf pengecap kita merasakan nikmatsedap luar biasa.

Kenapa salah kaprah dengan nama “bumbu penyedap”? Karena sebenarnya MSG adalah “nerves-cheating-agent”, yang bertugas “menipu” syaraf pengecap kita untuk menyampaikan ke otak bahwa rasa yang dikecap itu nikmatsedap.



Minyak goreng sebenarnya adalah istilah yang kurang pas. Lebih pas seharusnya disebut dengan cooking oil atau minyak masak. Khan fungsi minyak di sini bukan hanya semata untuk menggoreng, melainkan untuk menumis, salad dressing, dsb, walaupun memang fungsi utama minyak adalah menggoreng.

Minyak makan yang diterjemahkan dari edible oils, yaitu minyak yang bisa dimakan, atau digunakan untuk proses membuat makanan, memasak makanan atau mempersiapkan makanan, baik untuk memasak, membumbui dsb. Erat kaitannya dengan urusan mulut dan perut, karena di mulut dirasakan makanan olahan tsb, dan nantinya akan masuk ke perut.

Mungkin sebagian pembaca, baik bapak-bapak atau ibu-ibu bingung akan banyaknya jenis minyak di pasaran. Terutama mungkin ibu-ibu yang bingung, karena sudah jadi kodrat kebanyakan bapak-bapak tinggal lhhheeebbbb…..nyam, nyam, tidak akan pernah tahu yang dipakai masak itu minyak apa di dapur…

Jenis-jenis minyak yang paling banyak dijumpai di pasaran di seluruh dunia:
  • Palm oil
  • Soybean oil
  • Coconut oil
  • Olive oil
  • Canola oil
  • Sunflower oil
  • Corn oil
  • Celery oil
  • Sesame oil
  • Peanut oil


Yang paling luas dikenal dan digunakan adalah soybean oil, palm oil, coconut oil, canola oil, sunflower oil. Kepopuleran dan penggunaan masing-masing minyak ini tergantung masing-masing tempat, negara dan lokasi berdasarkan letak geografisnya.

Misalnya di Eropa, lebih banyak ditemukan di pasaran canola dan soybean oil, dengan variasi sunflower oil, corn oil, peanut oil dan olive oil tentu saja. Sementara di Eropa bagian selatan, olive oil lebih populer dan banyak digunakan dalam keperluan sehari-hari.

Di kawasan tropis, palm oil dan coconut oil lebih umum digunakan. Selain harga yang terjangkau, juga memang banyak tumbuh di kawasan tropis.





Total konsumsi oil and fats di 20 tahun lalu masih berkisar antara 82 juta ton di seluruh dunia, melompat tajam 2 kali lipatnya di 2010 ini diperkirakan mencapai 170 juta ton di seluruh dunia. Palm oil masih berkisar 14% di 20 tahun lalu, menjadi dua kali lipat 28%, dan ini adalah nomer satu di antara minyak yang lain. Penggunaan palm oil sudah sangat meluas, bahkan kebanyakan orang tidak sadar yang dikonsumsi dan dipakainya itu berbahan baku palm oil.

Yang akan kita bahas di sini adalah palm oil. Nama ilmiahnya adalah Elaeis guineensis berasal dari Africa, dan malah sekarang banyak sekali menyebar di negeri-negeri tropis, termasuk Indonesia kita ini. Mari kita lihat dari dekat bentuk dan bagian kelapa sawit.









Yang memberikan minyak adalah bagian yang kuning kemerahan, sementara di tengah yang berwarna putih itu adalah disebut dengan kernel, yang memang, juga menghasilkan minyak.

Minyak yang dihasilkan dari kernel jauh lebih mahal dan berharga dibandingkan dengan minyak sawitnya sendiri.

Bagi penggemar parfum, entah itu Chanel, CK, Bvlgari, Aigner, Hilfiger, dsb, salah satu bahan terpenting dalam parfum papan atas itu adalah kernel oil ini! Tentu saja banyak lagi campuran, tapi salah satu komponen penting adalah kernel oil ini.

Minyak sawit menjadi makin mendunia dikarenakan minyak yang dihasilkan tanaman kelapa sawit adalah yang tertinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya. Dapat dilihat di bawah ini:





Keterangan:Oil palm: 5000 kg or 5950 liter; kelapa: 2260 kg or 2689 liter; Jatropha: 1590 kg or 1892 liter; Rapeseed 1000 kg or 1190 liter; Peanut: 890 kg or 1059 liter; Sunflower: 800 kg or 952 liter; Soybean: 375 kg or 446 liter; Corn 145 kg or 172 liter.

Inilah proses buah kelapa sawit sampai menjadi cooking oil di dapur kita






Dan CPO yang dihasilkan prinsipnya proses fraksinasi sbb:




Proses pemisahan ini adalah untuk memisahkan CPO menjadi bagian yang cair disebut olein dan bagian padatnya yang disebut stearin. Olein akan diproses lebih lanjut menjadi cooking oil yang kita kenal dan stearin digunakan lebih lanjut untuk berbagai keperluan industri oleochemicals.

Hasil dari pemisahan ini disebut Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), yang sudah lebih bersih, karena dihilangkannya bebauan yang mengganggu. RBDPO diproses lebih lanjut menjadi Refined Bleached Deodorized Palm Olein, lazim disebut RBD Olein saja, dan bagian padatan yang disebut Refined Bleached Deodorized Stearin, sering disingkat RBD Stearin atau Stearin saja.

Pemrosesan berikutnya adalah memroses RBD Olein ini dengan menggunakan proses kimiawi dan mekanis untuk menjernihkan, membersihkan dan menyaring olein sampai menjadi layak konsumsi. Olein murni dari CPO masih berwarna merah terang yang menandakan kandungan tinggi betakaroten (semacam senyawa yang terdapat di wortel, yang menyebabkan warna orange-merah terang), yang sangat bermanfaat untuk tubuh kita.

Kegunaan stearin bermacam-macam, kebanyakan adalah untuk oleochemicals, industri lilin, industri makanan dan masih banyak lagi. Beberapa tahun belakangan, stearin banyak diproses lebih lanjut menjadi biodiesel yang disebut FAME (Fatty Acid Methyl Ester), notabene adalah proses sederhana esterifikasi.

Stearin inilah yang banyak sekali digunakan dalam industri mie instan sebagai filler dan bahan tambahan gandum untuk mie tsb. Inilah yang jadi salah kaprah menjadi anggapan bahwa mie instan dilapis lilin yang konon katanya supaya tidak lengket di panci atau pada waktu direbus.

Tidak sepenuhnya salah, karena memang stearin ini adalah substansi yang physical properties memang mirip sekali dengan lilin, namun chemical properties’nya berbeda. Lilin yang kita kenal adalah berasal dari fraksi minyak bumi dalam proses fraksinasi dari crude oil menjadi beberapa tingkatannya: avtur, bensin (berbagai octane number), solar/diesel fuel, minyak tanah, aspal dan paraffin wax. Paraffin wax inilah bahan dasar industri lilin terutama di Indonesia.

Lilin untuk rumah tangga (untuk lampu mati), lilin untuk sembahyang (gereja, kelenteng, vihara), bahan dasar utamanya adalah paraffin wax ini. Sementara stearin juga adalah bahan baku pembuatan lilin, tapi lilin yang berbahan dasar stearin ini digolongkan ke premium candles. Biasanya untuk dekorasi rumah untuk membangkitkan suasana dan ambience tertentu dan juga aromatherapy.

Perbedaan mencolok kedua substansi ini adalah jika dinyalakan. Yang berbahan paraffin wax (turunan minyak bumi tadi), akan berasap hitam, dan biasanya tidak habis terbakar. Setelah lilin habis, masih ada sisa lelehan lilin yang tersisa. Kebalikan dari lilin yang berbahan stearin, hampir tidak ada asap dari sumbunya, dan semua lilin habis terbakar tidak bersisa.

Kebanyakan di negara-negara maju, banyak rumah tangga membeli lilin untuk keperluan memberikan suasana atau atmosfer serta ambience dalam ruangan, untuk candle light dinner atau membangun suasana ‘ehem-ehem’ dalam kamar tidur, dengan bebauan khusus aromatherapy.

Yang menyebabkan salah kaprah terutama dalam komunikasi kita yang berbahasa Indonesia adalah kedua bahan/ substansi ini disebut dengan WAX yang secara harafiah diterjemahkan menjadi LILIN. Padahal struktur kimia keduanya jauh berbeda.

Kembali lagi pada peran stearin dalam industri mie instan. Dalam industri mie instan, terutama di Indonesia, peran stearin sungguh besar. Penambahan stearin ke dalam mie dimaksudkan untuk memberikan tekstur kenyal, renyah dan tidak lengket. Jadi anggapan luas ditambahi lilin ya tidak salah sepenuhnya. Pemahaman yang benar adalah penambahan stearin yang berasal dari kelapa sawit secara prinsip tidaklah membahayakan tubuh kita, sejauh ‘stearin-intake’ itu masih dalam batas-batas wajar dan dapat diterima oleh metabolisme tubuh kita.

Jumlah penambahan stearin ke dalam mie instan berbeda-beda di tiap merek dan produser. Secara umum dapat diterapkan rumus: makin murah harga mie instan, ya makin banyak stearin yang dicampurkan. Mie instan premium, terutama yang import, dari Jepang dan Korea, kebanyakan murni 100% gandum tanpa campuran stearin sama sekali.

Untuk merek-merek lokal dan merek dari China, ya jumlah penambahan stearin itu bervariasi. Indikatornya adalah harga!

Tidaklah mengherankan jika ada reaksi-reaksi negatif penolakan tubuh kita seperti perut kembung, maag kumat, diare, kolesterol dsb, dsb. Bahkan pernah terjadi beberapa extreme cases, karena tiap hari 3 kali sehari hanya menyantap mie instan, malah berakhir dengan kematian.

Kandungan kolesterol tinggi, maag dan reaksi lain dari tubuh kita adalah wajar dan normal. Bisa dibayangkan dari mie’nya sendiri sudah mengandung begitu banyak lemak (stearin adalah lemak, walaupun nabati, tapi tetap saja lemak), kemudian digoreng sampai kering dengan minyak sawit juga, bumbu-bumbu penyedap juga menggunakan minyak sawit plus MSG juga.

Pemahaman bahwa membuang air rebusan pertama, atau tidak menggunakan bumbu bawaan, dan banyak lagi tips untuk mengolah mie instan, sebenarnya tidak banyak membantu. Air rebusan berapa kali saja, tetap tidak akan membuang kandungan stearin yang ada dalam mie instan.

Obesitas dan melonjaknya kadar kolesterol bagi para penggemar fanatik mie instan, tidaklah mengherankan. Liver kita yang ditugasi mengolah dan memecah segala jenis ‘fats & oils intake’ dipaksa bekerja extra keras dan timbunan lemak dalam tubuh juga akan meningkat seiring berjalannya waktu. Dalam jangka panjang kerusakan organ tubuh tertentu jelas tak terhindarkan. Pencernaan terganggu sudah merupakan konsekuensi logis.

Semuanya makin diperparah dengan kebiasaan umum masyarakat perkotaan. Goreng menggoreng! Gorengan digemari masyarakat luas. Di setiap saat, setiap kesempatan, kapan saja, gorengan ada di sekitar kita, sepanjang hari.

Sarapan hampir pasti ada goreng menggoreng. Entah nasi goreng, mie goreng, kwetiauw goreng, tempe goreng, telor goreng, tahu goreng, pisang goreng, ubi goreng, bakwan goreng dan masih banyak lagi. Bahkan bubur ayam, soto ayam, suiran ayamnya juga pasti digoreng juga. Setelah direbus, biasanya digoreng lagi sebelum disuir-suir.

Di sela-sela waktu sampai makan siang, camilan apapun bisa dipastikan dekat dengan goreng menggoreng. Kerupuk, keripik, kacang, apa saja…demikian juga setelah makan siang, pisang goreng, ubi goreng, tahu goreng, kembali lagi menemani saat minum teh atau ngopi di sore hari.

Memang sungguh nikmat dan lezat makanan yang digoreng. Menggoreng adalah teknik memasak makanan dengan media pemanas minyak. Panas dihantarkan ke makanan melalui media minyak, yang sekaligus memberikan tekstur renyah, gurih dan sedap.

Mengonsumsi makanan gorengan terus tiap hari sudah merupakan satu masalah, masih ditambah lagi kualitas minyak goreng yang digunakan. Di Indonesia terutama, perusakan kesehatan terstruktur baik yang disadari maupun tidak disadari yang merusak dan yang dirusak terjadi setiap hari. Minyak goreng kebanyakan masyarakat luas, terutama yang berpenghasilan rendah, biasanya membeli minyak goreng curah. Minyak goreng curah adalah minyak goreng tanpa merek, tanpa kemasan, bisa dibeli eceran seperempat liter, setengah liter atau tigaperempat liter.

Minyak goreng curah ini sangat merusak kesehatan. Handling dari pabrik sampai ke pasar-pasar yang menjual eceran minyak jenis ini, sungguh tidak jelas. Kotor, kemasan yang tidak jelas kualitasnya. Masih ditambah lagi dengan panas matahari yang terik, yang sanggup mengubah struktur kimiawi minyak goreng itu sendiri dan juga plastik kemasan yang tidak jelas tadi.

Dari si penjual juga menjual minyak goreng curah ini dengan plastik yang patut diragukan kualitasnya. Terpapar sinar matahari langsung di pasar terbuka, sudah cukup menyebabkan perubahan struktur dari plastik dan minyak goreng itu sendiri. Dan kemudian dikonsumsi manusia, untuk menggoreng telor, menggoreng bakwan yang disandingkan dengan mie instan.

Itu belum semua! Minyak goreng curah bekas goreng menggoreng, ternyata didaur ulang dengan cara mengerikan. Sungguh kreatif memang orang Indonesia! Minyak bekas tadi akan dikumpulkan, dan di’treatment dengan cara-cara ngawur untuk kemudian dikemas dan dijual lagi. Minyak bekas itu ditambahkan bahan-bahan kimia tertentu yang bisa mengikat dan menyerap bau, warna buram karena sudah digunakan menggoreng, kemudian dipanaskan dan disaring kembali.

Secara kasat mata, minyak goreng daur ulang ini kelihatan bening dan seperti baru, tidak berbau bekas gorengan makanan, tidak tengik. Namun di balik itu semua terdapat kandungan racun yang mematikan dalam jangka panjang. Struktur kimiawi minyak sudah berubah total dan totally carcinogenic, very damaging untuk kesehatan manusia.

Ada juga pengumpul khusus minyak-minyak bekas gorengan resto cepat saji international franchise yang dominan menjual ayam goreng. Walaupun perusahaan mereka secara ketat dan luar biasa pengawasan untuk mutu makanan mereka, tapi apa daya, jika minyak bekas gorengan mereka “dikaryakan” oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Minyak bekas itu ada pengumpulnya, kemudian akan dijual atau di’treatment langsung oleh mereka sendiri sebelum dijual lagi.

Menurut para pengumpul minyak bekas itu, rasa gorengan yang digoreng dengannya sungguh sedap dan lebih nikmat. Tidak menampik ‘tipuan’ rasa lidah yang mengecap demikian, karena jelas saja, lemak ayam yang terlarut dan bumbu rempah dari tepung ayam juga memberikan rasa sendiri. Akan tetapi, larutnya lemak ayam dalam minyak goreng bekas tsb juga membawa seluruh kejelekan lemak dari ayam potong, yang mengandung banyak hormon penggemuk dan antibiotik dalam ayam itu.

Masih ada lagi. Ada kelompok yang tak berhati nurani, bahkan oli bekas juga menjadi bahan campuran minyak goreng daur ulang untuk menangguk keuntungan yang lebih banyak lagi. Oli bekas di’treatment secara khusus, sehingga bau sangit terbakar mesin kendaraan hilang, warna yang dimiripkan dengan minyak goreng, dicampurkan dengan minyak goreng, dan dijual lagi.

Itulah potret masyarakat luas kita. Dari pengguna sampai para ‘pengacaunya’. Para pengguna dengan dalih kemiskinan (lagi!) akan berkilah membeli minyak goreng dalam kemasan lebih mahal daripada minyak goreng curah dan dapat dibeli eceran. Sungguh keblinger pendapat seperti itu! Minyak goreng curah tidak lebih murah dari minyak goreng kemasan.

Kembali lagi masalah prioritas, rokok, minuman keras, pulsa handphone, bahkan beristri lebih dari satu (entah siri, entah tidak), sanggup dan mampu, tapi beli minyak goreng curah eceran dan mie instan termurah.

Kesimpulan
  • Pemahaman dan pendidikan secara luas dalam masyarakat diperlukan

  • Tidak selamanya mie instan itu jelek, selama tahu batasan dan pemahaman yang benar, mengonsumsi mie instan tidak akan menimbulkan masalah kesehatan (mungkin mirip dengan: “merokok tidak berbahaya, selama tidak dinyalakan” hahaha…)

  • Pembenaran dengan dalih kemiskinan adalah hal yang selalu didengungkan, dikedepankan oleh siapa saja, baik dari kaum marginal itu sendiri, sampai dengan para elite politik yang mengatasnamakan rakyat dan kemiskinannya

  • Wong cilik dengan segala permasalahannya sebenarnya bisa dipecahkan dengan kesadaran bersama, collective learning, collective awareness, tidak perlu sekolah tinggi dan rumit, yang penting adalah pemahaman dan common sense sederhana

Mari kita mulai dari diri kita dan sekitar kita untuk menularkan pemahaman sederhana kita, tentang apa saja. Semoga mencerahkan…terima kasih sudah membaca…






Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Instant_noodles
http://instantnoodles.org/
http://www.informatik.uni-stuttgart.de/menschen/hohldir/soups.html
http://noodleson.com/review/category/indonesian-brand/
http://noodleson.com/review/
http://www.opensourcefood.com/people/JohnZhang/recipes/chow-instant-noodles
http://en.wikipedia.org/wiki/Noodle
http://www.angelfire.com/planet/palmoilproducts/food.html
http://www.angelfire.com/planet/palmoilproducts/personalcare.html
http://www.angelfire.com/planet/palmoilproducts/misc.html
http://baltyra.com/2010/02/25/mie-instan-minyak-goreng-part-1/
http://baltyra.com/2010/03/25/mie-instan-minyak-goreng-part-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar