Abdurrahman Wahid

Gus, you sexy thing
Sejarah hubungan Islam dan Kristen lebih banyak dihiasi dengan darah, kekejaman, perkelahian, saling hina dan saling bertengkar dan saling tak mempercayai. Kesedihan ini bukan berlangsung tahunan, tetapi ribuan tahun dan terpelihara dengan baik oleh ketidaktahuan dan keengganan saling mengerti.
Hanya segelintir orang yang ingin membangun jembatan antara keyakinan, terutama Islam dan Kristen, yang selama sejarah manusia lebih banyak berhiaskan darah dan kebencian. Sedihnya, orang-orang seperti itu tidak dikenal dan tidak disukai oleh kalangan di masing-masing kubu yang tersiksa oleh kepercayaan mereka sendiri.
Permusuhan dan kebencian antara keyakinan, dapat terjadi karena kebodohan atau ketidaktahuan bagaimana seharusnya hidup rukun beragama. Ada juga rasa enggan karena menganggap superioritas keyakinannya yang terbaik dan paling benar. Cara pandang ini tidak bisa dipertahankan lagi dalam masyarakat majemuk (plural), apalagi dipupuk ketika persentuhan antara pemeluk antar keyakinan begitu sering terjadi dalam banyak segi kehidupan sosial.
Pluralisme adalah keharusan untuk keselamatan umat manusia, kata Nurcholis Madjid sambil mengutip ayat Quran surat Al Baqarah ayat 251, yang mendasari sikapnya. Pluralisme bukan mencampurkan adukan agama atau keyakinan, karena keyakinan tak bisa dicampur seperti pecel. Pluralisme tak bisa diartikan hanya kita majemuk, berbeda suku atau golongan.

Ada seorang Indonesia yang begitu kental dan kuat untuk membangun dialog antara keyakinan atau peradaban, seperti Islam dan Kristen, melalui sebuah jembatan dialog. Sejak puluhan tahun orang ini tanpa lelah merintis pemikiran untuk membuka cara berpikir kaum muslim di Indonesia dan juga dunia untuk membuka diri memandang jauh melintasi keyakinannya masing-masing. Orang ini bernama Abdurrahman Wahid. Dia mulai dari selangkah demi selangkah melalui rangkaian tulisan dan opini selama puluhan tahun untuk membangun jembatan antara umat beragama.
Kehadiran Wahid yang dikenal dengan Gus Dur sangat unik di tengah kehidupan rakyat Indonesia, karena muncul dari kalangan kaum tradisional yang sering mendapat label negatif dalam berdialog dengan agama lain. Gaya penuturan dan tindakannya lebih membuatnya tambah unik bahkan aneh.

Gus Dur memiliki pengikut setia mati di kalangan kaum sarungan di pelosok jauh dari gempita kehidupan modernitas. Namun sebaliknya, dia mempunyai deposit persahabatan dengan kaum intelektual dan tokoh terkemuka jauh di benua barat dan timur. Dia sahabat George Soros, kapitalis radikal Yahudi. Gus Dur juga anggota The Shimon Perez Foundation, yayasan yang dinamakan dari seorang negarawan Israel.
Nama Gus Dur sangat harum di hati kaum keturunan Tionghoa Indonesia, dihormati orang Papua, disenangi Gereja Katolik Vatikan, diratapi kepergiannya oleh pengikut Gereje Mormon di Amerika Serikat (dia sahabat pemimpin tertinggi Gereja Mormon Gordon Hinckley), serta dimuliakan para ulama Timur Tengah (Gus Dur lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dan pandai bahasa Arab). Tentunya juga dia dibenci habis-habisan oleh jutaan umat Islam yang tak suka jalan pikirannya (ada beberapa pihak muslim menganggapnya kafir).

Banyak hal dilontar Gus Dur yang membuat gejolak banyak pihak, terutama ucapannya yang sepenggal-penggal secara telanjang dan multi tafsir. Bahkan terkadang menyakitkan umat Islam, yang sering menyesali kritikan dan kebenciannya terhadap Gus Dur dikemudian hari. Al Quran adalah kitab suci terporno, adalah satu dari ucapannya yang membakar amarah banyak orang Islam. Memang dalam Quran, ada kisah antara Nabi Yusuf dengan Siti Zulaikha yang sangat romantis dalam kata-kata bernilai sastra tingkat tinggi.
Bagi Gus Dur, Islam adalah rahmatan lil alamin (berkah bagi jagat semesta), yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak boleh kehadiran Islam menjadi biang kerok (trouble maker) bagi masalah sesama manusia. Harus dibangun jembatan untuk umat Islam agar dapat menuju kedamaian hidup dengan agama lain.
Satu hal mendasar dari pemikirannya untuk membangun jembatan dialog tersebut, karena secara teologis Islam dianggap penutup (khatam) segala Rasul dan Nabi. Khatam secara leksikal berarti cincin atau pengesah dokumen (seal). Fungsi Nabi Muhammad terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau adalah memberi pengesahan kepada kebenaran kitab-kitab suci dan ajaran mereka.
Paus Yohannes Paulus II

Jan Pawel adalah sebutan orang Polandia untuk Johannes Paulus II, pemimpin umat Katolik sedunia yang pertama dalam kurun 250 tahun yang bukan orang Italia. Nama asli Paus Yohannes Paulus II adalah Karol Wojtyla tidak banyak yang mengenalnya sewaktu dia masih menjadi seorang padri sebelum dia bertahta di Vatikan, pusat gereja Katolik sedunia, pada Oktober 1978.
Namun setelah dia duduk di Tahta Suci, mulai banyak kejutan rohani yang dilakukan terutama terhadap hubungannya dengan kaum Muslim. Beliau terlihat begitu kental memperlihatkan sikap terbuka terhadap umat Islam. Selama menjadi paus, Vatikan lebih banyak bersimpati terhadap Palestina, negeri yang selalu gagal dijadikan negara oleh umat Islam sejagat. Beliau lebih banyak terlihat menerima tokoh dan pemimpin Palestina daripada menjadi tuan rumah kedatangan tokoh dari Israel, seraya selalu menunjukkan kemarahannya bila ada agresi kekerasan Israel.
Banyak dialog dirintis dan dibuka oleh Paus Johannes Paulus II terhadap semua agama, terutama Islam. Dia adalah paus pertama dalam sejarah yang pertama kali masuk ke sinagog dan juga mesjid. Ketika pada Mei 2001, dia menginjakkan kaki seorang paus ke dalam sebuah mesjid, Masjid Omayyad di Damaskus, ibukota Siria. Bukan sekedar berziarah ke makam Nabi Yahya (Johannes Pembaptis) yang ada dalam masjid tersebut, tetapi juga berdoa untuk kerukunan umat Nasrani dengan umat agama lain, terutama Islam.

Selama 28 tahun menjadi paus, dia paling rajin berkeliling dunia mengunjungi umatnya dan juga negeri-negeri Islam yang tidak pernah dilakukan pendahulunya selama 2000 tahun sejarah gereja Katolik. Dia datang ke Turki (Nov 1979), Maroko (Agt 1985), Senegal (Feb 1992), Sudan (Feb 1993), Tunisia (Apr 1996), Bosna (1997 dan 2003), Mesir (Feb 2000), Palestina dan Jordania (Mar 2000) dan Siria (Mei 2001). Bahkan bulan Oktober 1989, dia menjadi paus kedua yang datang kelilingi berbagai kota di Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, sejak pendahulunya Paus Paulus VI datang sehari ke Jakarta tahun 1971.
Pernah di depan publik, Paus Johannes Paulus II, memperlihatkan sikap yang tak pernah terjadi dalam hubungan gereja dengan umat Islam, yaitu mencium kitab suci Al Quran saat menerima delegasi komunal dari Irak. Dia ingin menunjukkan bahwa hubungan umat Islam dan Kristen, tidak dapat dipertahankan lagi hanya dengan membiarkan kebencian dan ketidakpahaman tersimpan rapi dalam lubuk masing-masing pemeluknya.

Paus Johannes Paulus II telah menghilangkan kesulitan umat Kristen dalam memahami Islam serta membuka hati mereka untuk menerima kehadirannya secara positif. Sumber prasangka umat Kristen kepada Islam yang berasal dari takut kepada Islam yang dianggap menjadi ancaman, perlahan dikikis habis olehnya. Tidak mengherankan ketika kematiannya tahun 2005 sangat diratapi dunia Islam. Berbagai sekte dan kelompok Islam, terlihat hadir di lapangan Santo Petrus untuk memberi kehormatan tertinggi kepadanya.
Banyak karya Paus Johannes Paulus II telah membuat jembatan komunikasi budaya sejagat, yang akan mempermudah manusia berkemauan baik untuk menuju dan bertemu dalam falsafah Islam disebut al hikmat al atiqah atau terkenal disebut sophia perennis Ini adalah ajaran Nabi Ibrahim, bapak tiga agama besar, yang Nabi Muhammad diperintahkan Tuhan untuk mengikutinya.
Pangeran Aga Khan IV

Banyak kerja, sedikit bicara dan banyak harta. Mungkin anggapan ini cocok untuk His Highness Prince Aga Khan IV atau Shah Karim al Hussayni The Aga Khan IV atau biasa disapa Pangeran Karim, namanya sebelum menjadi imam (pemimpin) bagi 18 juta pemeluk Islam Syiah Ismailliya di berbagai belahan dunia. Kadang dia dipanggil Karim, sapaan akrab teman-temannya yang kebanyakan adalah tokoh, kepala negara, bangsawan, selebritis dan kapitalis dunia.
Begitu jarang terdengar sepak terjangnya, banyak yang tak tahu apa yang dikerjakannya. Namun hasilnya pasti dan banyak dirasakan sebagian besar orang. Dari rakyat tradisional di sepanang pantai timur Afrika, sampai masyarakat modern di seantero Eropa dan Amerika.
Pangeran Karim atau Aga Khan IV telah banyak melakukan perkerjaan lintas budaya, benua, agama dan kepercayaan. Namanya sangat dihormati bagi sebagian besar umat Islam. Sedangkan di dunia barat dia tidak hanya dihargai setinggi langit atas jasa lintas budayanya, tetapi juga karena faktor genetisnya. Karim adalah bangsawan barat Eropa yang beragama Islam.
Pangeran Karim Aga Khan menjadi imam sekte Islam Syiah Ismailliyah ke 49 tahun 1957 (Imam pertama adalah Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi Muhammad). Dia keturunan langsung Nabi Muhammad dari putrinya Fatima, istri Ali bin Abi Thalib. Aktris cantik Hollywood Rita Hayworth pernah menjadi ibu tirinya ketika dinikahi ayahnya, Pangeran Aly Khan.
Aga Khan IV atau Pangeran Karim telah banyak membangun jembatan dialog yang kuat antara Islam dan dunia barat. Tidak hanya melalui genealogi (silsilah) yang dia berada di dalamnya, tetapi melalui berbagai proyek kemanusiaan dan ilmiah yang dia kendalikan dari luar kota Paris dengan sekitar 16 ribu karyawannya di seluruh dunia.
Kehadiran sosok Aga Khan di dunia barat telah banyak membuat budaya kristiani dapat memahami Islam secara benar. Dia dapat mengendalikan kesalahapahaman barat (baca Kristen) terhadap Islam tidak sampai meluas ke tingkat yang lebih tinggi lagi dan hanya terjadi pada lapisan masyarakat di bawah yang tak banyak mengerti tentang Islam.
Dia juga mengenal baik (dan memang punya hubungan darah) dengan hampir semua bangsawan Eropa serta tokoh-tokoh politik serta masyarakat di dunia barat. “Yang Mulia Aga Khan adalah sosok pribadi yang memiliki visi, intelektual dan passion. Saya banggsa bisa mengetahui sepak terjangnya selama hampir 40 tahun”, puji “Raja Amerika” David Rockefeller ketika memberi penghargaan kepadanya. Banyak penghargaan tertinggi dari negara-negara barat yang hanya diberikan segelintir orang selama ratusan tahun, telah diraihnya.

Tidak hanya itu, Aga Khan IV adalah Honorary Citizen of Canada yang diberikan hanya untuk 5 orang (Dalai Lama, Mandela, Ang San Syu Kii dan seorang diplomat Swedia). Dia pernah mewakili kontingan Iran pada Olimpiade Musim Dingin 1964 di Innsbruck, Austria. Juga memegang beberapa paspor, seperti Iran, Pakistan, India, Mesir, Tanzania, Kenya, Prancis (rumahnya), Inggris (tentu saja), Kanada (sudah pasti) dan banyak lagi
Keistimewaan ini adalah anugerah baginya untuk bisa membuat jembatan antar peradaban Islam dan Kristen. Selama lebih setengah abad, Aga Khan IV melewati masa panjang di jaman modern yang tidak banyak menghargai prasangka dan kecurigaan penuh kefanatikan keagamaan. Dia berusaha mewujudkan sikap lebih ilmiah dan jujur yang kini mulai tumbuh di dunia barat terhadap dialog Islam dan Kristen.
Pengertian Islam yang lebih baik di dunia barat, telah dibawa oleh Aga Khan IV dengan penuh pesona dan meresap di banyak lapisan masyarakat. Hampir semua pusat-pusat kebudayaan Islam di kota-kota besar Eropa, direstui dan didukung oleh para tokoh terkemuka di barat. Aga Khan IV-lah yang bisa menghadirikan kembali simpul budaya Islam di semenanjung Andalusia, waktu membuka pusat Islam di Lisabon, ibukota Portugal, setelah Islam lenyap selama 700 tahun lalu di semenanung itu.
Pangeran Aga Khan telah bertemu dan berteman baik dengan puluhan raja, presiden, perdana menteri di seluruh dunia sejak 50 tahun lampau hingga kini. Dari Presiden John Kennedy sampai Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Nelson Mandela sampai Susuhunan Pakubuwono XII dari Solo, pernah serius berbincang dengannya. Kakeknya, Aga Khan III adalah ketua Liga Bangsa-Bangsa (semacam PBB sebelum 1945). Ayahnya duta besar Pakistan untuk PBB dan pamannya Pangeran Sadruddin Aga Khan adalah ketua UNCHR (badan urusan pengungsi PBB) yang termuda, terlama dan paling berjasa untuk badan sosial tersebut dari 1965-1977.

Bagi Indonesia, nama Aga Khan sangat dikenang baik oleh kaum intelektual sosial dan agama. Dia mendirikan Aga Khan Award for Architecture, semacam hadiah Nobel untuk arsitektur yang dibagikan setiap siklus 3 tahunan dan tempat penganugrahannya berpindah-pindah. Kraton Surakarta pernah menjadi tuan rumah penganugrahan ini tahun 1995.
Banyak bangunan cantik ramah lingkungan di Indonesia mendapat anugrah Aga Khan. Misalnya Program Pemberdayaan Kampung di Jakarta (1980), pemberdayaan Kampung Kebalen Surabaya dan Mesjid Said Naum Kebon Jeruk Jakarta karya Adhi Moersid (1986), Proyek Pengembangan Citra Niaga di Samarinda (1989) juga landskap bandara Soekarno Hatta karya arsitek Paul Andreu (Aeroports de Paris) tahun 1995. Bahkan dia menggelar kejuaraan regional sepakbola Piala Aga Khan, yang sering dijuarai kesebelasan Indonesia sewaktu masih ditakuti.
Meskipun agama yang pimpin Aga Khan IV ada sedikit perbedaan teologis dengan kebanyakan umat Islam lainnya, namun dimata dunia barat Islam yang dibawa Aga Khan dilihat sebagai bentuk pesona yang menawan secara utuh. Sebaliknya bagi pengikutnya, barat atau agama Kristen dipandang sebagai sebuah peradaban yang harus dihormati tanpa cela.
Pangeran Charles

Tengah malam, di sebuah dermaga kecil tempat wisata musim panas di Mullaghmore, County Sligo, Irlandia, sebuah boat bernama ‘Shadow V’ mengapung di perairan Teluk Donegal. Seorang sukarelawan kelompok perlawanan terhadap Inggris di Irlanda, IRA (Tentara Republik Irlandia) memasang bom RC seberat 50kg di perut perahu tersebut, bom itu meledak ketika ingin ditumpangi seorang pria bangsawan tua jangkung yang ingin pergi memancing dalam liburan musim panasnya. Pria itu Lord Mountbatten, great uncle dari Pangeran Charles, putra mahkota kerajaan Inggris. Mountbatten tewas seketika. Inggris pun panik dan marah. Pangeran Charles jatuh sedih. “Paman Dickie (panggilan keluarga untuk Lord Mountbatten) adalah orang paling saya kagumi dari siapapun”. Mountbatten bukan hanya sekedar paman atau keluarga bagi, tetapi sosok teman untuk diskusi bagi sang pangeran. Dia juga banyak memberi kemudahan kepada pemimpin Indonesia berperang melawan Belanda saat revolusi dulu.
Sejak kematian Mountbatten, Pangeran Charles banyak berubah dalam melihat persoalan masyarakat. Orang kesayangannya itu tewas akibat hasil sebuah perselisihan berakar dari dari banyak perkara, di antaranya agama. IRA yang bertanggung jawab memusnahkan Moutbatten adalah pro-Katolik dan dibentuk untuk melawan kekuasaan Inggris di bumi Irlandia.
Perselisihan yang juga diwarnai motif agama itu, melekat dalam setiap sendi masyarakat sampai ke lapangan sepakbola, olahraga kegemaran masyarakat di sana. Bila ada pertandingan klasik antara Rangers dan Celtic, sudah diduga, secara tradisi penganut Protestan akan membela Ranger dan pengikut Katolik akan mendukung kesebelasan Celtic.
Pahitnya perselisihan itu dilantunkan dalam lagu kelompok U2, Sunday Bloody Sunday, yang menceritakan pembantaian tentara Inggris di hari Minggu akhir Januari 1972 terhadap rakyat sipil Irlandia. Kekerasan bermotif agama secara tak langsung menjadi bagian pengalaman pribadi Pangeran Charles. Dia tak ingin berada dalam malapetaka itu dan tak mau rakyatnya terbakar oleh amarah kebencian agama.
Dia menginginkan adanya kasih sayang mengelilingi pemeluk agama-agama besar, yang memilki keterbatasan untuk saling menghormati dan hidup harmoni. Kita harus saling berbagi pengalaman, saling mengungkap diri kita, saling memahami dan tenggang rasa, meski saya tahu hal ini tidak mudah, ujarnya dalam sebuah pidato cemerlang tantang Islam dan Kristen di Universitas Oxford 17 tahun silam. Charles tidak sendiri mengakui kesukaran untuk saling memahami dua agama besar yang membawa ciri peradaban besar yang saling berbeda bagai siang dan malam.
Orang yang menduduki urutan nomor satu menduduki tahta sebuah kerajaan besar dan paling bergengsi di dunia itu, kini tampak seperti pedagang asongan yang menjajakan perdamaian dan harmoni antara dua agama dan peradaban besar. Tapi itulah pekerjaan yang sulit dilakukannya dan kurang mendapat untung, ketika makin banyak terjadi permusuhan berdarah berawal kebencian antara Islam dan Kristen di awal milenium baru.
Promosi Charles mengukir harmoni Islam dan Kristen tidak setengah-tengah. Dia berkeliling ke dunia Islam sambil meninggal jejak dagangannya dengan pidato memukau yang menyejukkan dan juga mengagetkan banyak orang yang pikiran tertutup awan hitam kebencian.

Dia mengunjungi makam Jalaluddin Rumi di Konya bersama istrinya buka sekedar berziarah saat sang filsuf berusia 800 tahun, tetapi mencoba mengikat tiga agama besar dan juga agama lain untuk saling memberi ruang untuk pengertian. Puluhan mesjid dan institusi Islam didatangi baik di luar Inggris maupun di negaranya. Universitas Al Azhar memberikan gelar kehormatan kepadanya, sebuah penghargaan tertinggi yang pernah diberikan kepada seorang tokoh non-muslim. Dia datangi kelas sekolah milik Cat Stevens (Yusuf Islam) dan masuk ke Masjid Istiqlal sewaktu kedua kalinya ke Jakarta.


Tidak ada ukuran untuk menilai apakah Charles berhasil membuat jembatan indah antara agama-agama di dunia. Kita tidak bisa memaksa dia juga untuk berhasil, selama kita tidak menyukai apa yang dia buat. Pengorbanan Charles untuk itu juga tidak sedikit dan mulai mengusik tradisi ratusan tahun predikat kelak sebagai seorang raja.
Gelarnya sebagai “Defender of Faith” (sama seperti raja-raja Jawa dengan sebutan Panatagama atau pemimpin atau penata agama), sedikit terusik. Charles tak cocok lagi memakai gelar itu, harus diubah menjadi ‘Faiths’ (jamak), karena sebutan itu khusus untuknya sebagai pelindung agama resmi kerajaan Inggris, Anglikan. Sedangkan Islam sudah membesar pemeluknya dan menjadi agama kedua, dibarengi dengan pesatnya agama non-Anglikan di sana.
Ketika akan pecah Perang Teluk untuk mengusir Irak dari Kuwait tahun 1991, Charles terbang ke teater yang akan dijadikan perang. Dia meminta panglima tertinggi perang itu, Jenderal Norman Schwarzkopf agar jika perang terjadi di Irak, jangan merusak tempat-tempat suci umat Islam (kebanyakan milik sekte Syiah, seperti makam menantu Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib). Permohonan itu dijalankan dengan baik oleh Schwarzkopf. Justru Saddam Hussein banyak menghancurkan yang ingin dilindungi Charles.
Charles sudah membuka banyak pikiran kaum muslim dan kristiani, yang mewakili dua peradaban besar untuk sebuah pengertian yang terpisah jurang jauh dan waktu. Dia selalu mengulang betapa peradaban barat harus berterima kasih kepada dunia Islam dalam banyak kemajuan ilmu pengetahuan yang dirintis ketika Eropa kegelapan dalam sebuah masa yang panjang.
Kelak dalam generasi mendatang, kita juga akan berterima kepada seorang pangeran yang bernama lengkap Charles Arthur Phillip George, yang banyak berjasa membangun pengertian antar peradaban yang sulit beradab saling memahami. Ketika kemajuan saling pengertian antara agama, toh kejadian yang ada selalu begitu-begitu saja. Tetap saling sukar memahami.
Bukan berarti pangeran yang akan menjadi Raja Charles III itu gagal membuat jembatan antara agama dan peradaban. Tetapi kita tak mau melalui jembatan itu dan memilih terjun bebas ke dasar jurang.
Sumber :
http://baltyra.com/2010/12/24/jembatan-islam-kristen-1-abdurrahman-wahid/
http://baltyra.com/2010/12/25/jembatan-islam-kristen-2-johannes-paulus-ii/
http://baltyra.com/2010/12/26/jembatan-islam-kristen-3-aga-khan-iv/
http://baltyra.com/2011/01/17/jembatan-islam-%E2%80%93-kristen-4-habis-pangeran-charles/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar