Terima kasih Atas kunjungannya

Senin, 20 Juni 2011

Terima kasih.

Coba perhatikan tanggapan orang yang kita beri ucapan terima kasih.
Ternyata tidak seragam.
Banyak orang yang, setelah kita bilang terima kasih, hanya menjawab, Ya.
Yang lain, berujar Oke.
Tapi ada juga yang diucapi terima kasih malah kesal, dan marah karena sebenarnya ia mengharapkan sesuatu yang lebih daripada sekedar ucapan terima kasih.

Lalu dari sekian banyak orang, hanya ada sedikit yang dengan sadar membalas dengan tanggapan, “Sama-sama…” ataupun dengan kata-kata, “Terima kasih kembali”, sambil tersenyum manis.

Mari kita melihat, betapa berbeda intensi dan ekspresi di balik semua jawaban itu,
yang mencerminkan hal yang sama ketika mereka sendiri berterima kasih kepada orang lain.

Ada sebuah keluarga yang berada, punya banyak pelayan di rumahnya.
Tetapi yang menarik, anak-anak di rumah itu dibiasakan sejak kecil untuk berterima kasih kepada siapapun, terutama kepada para pembantu dan orang-orang kecil.
Kepada pembantu yang menyiapkan makanan di meja makan, anak-anak terbiasa mengucapkan terima kasih dengan tulus dan dengan tersenyum.
Ketika diantar naik mobil, mereka tidak segera lari masuk ke halaman sekolah, tetapi berterima kasih dulu kepada sopirnya, dengan tersenyum dan menyebut namanya!

Memang kata terima kasih itu sungguh luar biasa pengaruhnya, karena
Ia membuat kita tidak lagi berpikir tentang diri-ku sendiri, milik-ku sendiri, hak-ku sendiri, tetapi bahwa ada kita, ada engkau, ada saudaraku yang lain, ada saudara, ada penolong, ada sahabat di sana.


Nah, siapa yang kita beri ucapan terima kasih?
Orang-orang yang kita jumpai, atau Tuhan yang bersemayam dalam diri mereka?
Bagi kita sendiri, ngomong-ngomong, siapa yang kita muliakan?
Kalau kita masih menganggap bahwa orang lain sudah sepantasnya melayani, maka kita itu belum dewasa.
Ketika mulai belajar berterima kasih, kita akan makin tahu bahwa ada orang lain, ada hidup bersama, ada ‘kita’.
Lebih lagi, pada saat menanggapi rasa syukur orang dengan kata-kata terima kasih
kembali, kita mengembalikan rasa syukur itu kepada Sang Empunya Rahmat,
dan bukan menikmatinya untuk diri sendiri.


Dua hal sekurang-kurangnya kita pelajari hari ini.
Kita diajak belajar untuk berterima kasih pada siapapun, termasuk mereka yang mungkin tidak kita sukai, karena Tuhan pun ada dalam diri mereka, untuk menyelamatkan kita.
Kedua, arahkanlah ucapan terima kasih saudara kita kepada Tuhan yang berada di balik semua peristiwa rahmat; jangan pernah mengambil untung dari rasa syukur siapapun!



Pst. H. Tedjoworo OSC
dengan perubahan



Sumber : http://www.pratista.org/ngomong-ngomong-siapa-yang-kumuliakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar