Terima kasih Atas kunjungannya

Rabu, 17 November 2010

Indonesia boleh bangga, karena bocah Indonesia ini tak kalah dengan programer dewasa.


Keunggulan Fahma Waluya (12) dan adiknya Hania Pracika (6) di antara lomba software APICTA International 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia, minggu silam mengungkapkan sebenarnya anak-anak Indonesia telah jago membuat software. Tidak mesti software yang canggih berlanjut beserta animasi tiga dimensi, namun yang lebih utama sama seperti bagaimana software itu dapat bermanfaat.

Kakak beradik asal Bandung tersebut sudah membuktikannya. Sebagaimana anak-anak lainnya, Fahma pun gemar bermain game di PC atau ponsel. Tetapi, ia mengajak kawan-kawannya bukan cuma main game, tapi juga membuat game sendiri.

Pengalamannya membuat software berawal dimulai kesenangannya main software animasi. Dari duduk di kelas 4, Fahma telah menjadikan presentasi beserta Power Point serta setahun belakangan ia sudah mulai berkenalan beserta Adobe Flash. Beserta Adobe Flash pun, ia sekarang ini telah memproduksi beberapa software edukasi buat anak-anak.

Software pertamanya yang dikasih nama Bahana ajang memperkenalkan warna, angka, serta huruf. Di antara waktu dua tahun lalu, ia telah memproduksi beberapa software berbasis Flash, misalnya ENRICH (English for Children) buat belajar Bahasa Inggris, MANTAP (Math for Children), Doa Anak Muslim (Prayers for Children), Asmaul Husna, serta lainnya.

Fahma serta Hania berkolaborasi di antara pembuatan beragam aplikasi itu. Proses membuat software dijalankan Fahma, sedangkan adiknya jadi sumber ide, beta tester, sudah masuk merekam suara yang dibutuhkan buat melengkapi aplikasi itu. Uniknya, seluruh ide software berangkat sejak kepentingan belajar adiknya.

"Aku sayang adikku, Hania, meski dia kadang-kadang rewel, lebih-lebih ketika dia tidak ada aktivitas atau permainan. Dia saat ini sekolah di TK B Cendikia, Bandung. Dia suka memainkan ponsel, lebih-lebih milik ibuku. Saat di playgroup, dia asyik belajar. Aku ditantang ayahku buat membuat aplikasi di HP ibuku untuk adikku dapat bermain sambil belajar. Akhirnya, dibuatlah aplikasi buat ponsel ibuku," ucap Fahma di antara pengantar aplikasi yang didaftarkan di APICTA 2010.
Terang saja kesuksesan Fahma serta Hania berkat bimbingan kedua orangtuanya, Dr Yusep Rosmansyah, seorang dosen serta peneliti di ITB serta Yusi Elsiano, seorang praktisi perkembangan anak-anak. Ketika Fahma mengucapkan minatnya mendalami Flash, orangtua mengizinkan kesempatan buat kursus. Orangtua juga yang memberi masukan serta nasihat supaya hobi membuat software tetap dapat disalurkan di tengah kegiatan yang padat.

Aplikasi buatannya dicoba di ponsel Nokia E71 punya ibu serta ayahnya. Aplikasi "My moms mobile phone as my sisters tutor" yang unggul di antara ajang APICTA 2010 tersebut adalah kumpulan aplikasi yang terus dikembangkan kedua kakak beradik tersebut. Aplikas-aplikasi itu tersedia gratis buat diunduh lewat situs web yang dikelola ibunya di www.perkembangananak.com. Malahan, sebagian software pula tersedia gratis di OVI Store buat ponsel-ponsel Nokia.

Ketika memperkenalkan software buatannya beberapa saat silam, Fahma menyampaikan memiliki keinginan agar bisa semakin mengasah keterampilannya di antara pemrograman software. Sekarang ini, ia tengah memperdalam software buat membuat aplikasi tiga dimensi serta belajar bahasa pemrograman C++ beserta bimbingan ayahnya. Diharapkan, positif bisa memproduksi aplikasi-aplikasi yang semakin baik. Nah, kecil-kecil terbukti bocah Indonesia jago bikin software pula kan.(kompas/suaranews)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar