Kring, kring. Pagi ini telepon rumahku berdering tepat pukul sembilan.
“Ah, pasti itu Om Nor!” kata ibuku kepada Lilo anakku. Lilo pun sudah siap berdiri di dekat telepon ketika aku mengangkat gagang telepon.
“Hallo!” kataku yakin kalau dia memang adikku. Biasanya memang hanya dia yang menelepon lewat telepon rumah.
“Aku tabrakan!” katanya gemetar.
“Hah, di mana?” sahutku.
“Aku tabrakan. Aku menabrak orang.”
“Heh ini siapa. Ini Nor tho?” Aku agak ragu karena suaranya agak berbeda dengan suara adikku biasanya.
“Heh jangan keras-keras. Jangan sampai orang lain dengar dulu. Ada siapa di rumah?” Suaranya mendesah dan sambil gemetaran.
“Ya ada ibu dan Ris.” Ibuku melihat raut wajahku dan mulai pasang telinga. Beliau sudah menarik Lilo menjauh dari tempatku berdiri.
“Ya udah, aku menabrak orang dan yang kutabrak mati. Sekarang aku mau dibawa ke kantor polisi,” katanya masih gemetar.
“Lha, trus gimana?” tanyaku setengah berteriak. Aku ingin tahu tentang keadaannya. Melihat waktu masih pukul sembilan pagi, berarti adikku baru pulang kerja shift malam, lalu pergi sarapan dulu baru pulang ke kosnya. Mungkin kecelakaan itu terjadi karena dia mengantuk.
“Jangan keras-keras. Kamu tenang dulu, aku ingin nggak banyak orang tahu dulu.”
“Ya, tapi kamu nggak papa kan?”
“Sekarang keluarga yang kutabrak minta uang ganti rugi.”
“Berapa?”
“Di rumah ada uang berapa?”
“Ehm. Berapa ya?” aku nggak sanggup mengingat nominal uang yang kumiliki.
“Aku butuh uang cepat di rumah ada berapa? Siapa saja di rumah?”
“Lha, kamu di mana sekarang?”
“Udahlah, yang kutabrak itu minta uang.”
“Berapa?”
“Dua orang yang mati, minta uang 250 juta. Di rumah ada uang berapa?” Mendengar nominal itu aku shock. Terbayang di kepalaku, kami nggak akan sanggup memenuhinya, dan adikku akan di penjara karenanya. Dan jelas berapa pun uang yang ada di rumah nggak akan cukup untuk memenuhi permintaan korban, bahkan untuk uang janji sekali pun.
“Lha, kamu ada di mana sekarang?”
“Aku di rumah yang mati.”
“Di sebelah mana itu.”
“Sudahlah, ada uang berapa di rumah?”
”Aku belum tahu ada berapa uang di rumah. Yang penting sekarang aku ke tempatmu. Kamu di mana? Aku akan menemanimu dulu!” Kataku tegas, karena pikirku aku harus punya strategi dulu menghadapi keluarga yang minta uang.
Klek, telepon ditutup.
Ibuku yang sudah menunggu dengan khawatir sejak tadi langsung bertanya, ”Ada apa?”
“Nor nabrak orang” Ibuku terkejut, beliau duduk bersandar ke tembok dan wajahnya mulai memucat.
“Dan orang yang ditabrak mati. Sekarang minta ganti rugi” Ibuku makin melemas.
“Sekarang aku punya uang seratus ribu.” Kata ibuku. Nah, kan? Aku sengaja nggak bilang nominal yang diminta, supaya nggak nambahin shocknya ibuku. Suasana rumah jadi mencekam. Kami beradu dengan pikiran kami masing-masing, aku, ibuku, dan adikku bungsu. Hanya Lilo yang masih asyik bermain dengan mobil-mobilannya.
Aku sendiri mulai memikirkan siapa teman yang mungkin bisa menolongku menyelesaikan masalah ini, minimal untuk menemaniku.
“Lha, sekarang dia di mana?” tanya ibuku.
”Nah, nggak tahu langsung ditutup.”
Pertanyaan ibuku ini menyadarkanku untuk mencoba menghubungi adikku. Kuraih handphone yang sedang kucharge, kuhubungi nomor HP adikku.
“Halo,” terdengar suara di seberang agak serak.
“Hai, kamu sekarang di mana?”
“Lha kenapa mbak?” Aku masih nggak percaya dengan jawabannya, aku pastikan lagi,
“Eh, kamu nggak papa to le?”
“Eh, lha wong aku tidur. Emangnya kenapa mbak?” langsung dada ini lega rasanya. Dan aku sadar bahwa aku tadi akan ditipu orang.
“Oh untunglah, untunglah!” aku sampai terduduk di lantai.
Kudengar suara ibuku, “Oh, jadi bukan Nor, oh puji Tuhan, puji Tuhan.”
“Emang kenapa tho, mbak?” Lalu kuceritakan tentang telepon yang barusan kuterima.
“Ah, aku sudah pulang sejak tadi dan sudah tidur di kos. Aku nggak papa kok! Lagian kalau aku nabrak sampai mati, pasti aku juga nggak bisa nelpon lagi, pasti terkapar juga.”
Iya juga ya, mengapa aku nggak sempat mikir segitu. Mungkin si penipu tadi naik mobil, jadi bisa nabrak mati sampai dua orang, sedangkan adikku hanya naik motor dan antara lokasi kerja dan kosnya nggak jauh, jadi nggak bakalan ngebut juga. Ah kalau aku sesadar itu. Tetapi, sampai sore, bahkan sampai adikku datang ke rumah, suara di telepon itu masih terngiang-ngiang dan memenuhi pikiranku. Ah sungguh menyebalkan.
Sumber : Dwiani Asih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar